Karangtalun Akan Segera Wujudkan Kampung Iklim

Ngombol | bagelenchannel.com – Persoalan perubahan iklim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), menyebutkan bahwa kenaikan suhu permukaan bumi di wilayah Asia Tenggara pada abad ini berkisar antara 0,4-1 derajat Celcius dan diperkirakan akan terus meningkat antara 1,5-2 derajat Celcius pada periode 30 tahun mendatang.

Perubahan suhu yang terjadi saat ini diyakini sebagai akibat terjadinya akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Berbagai kegiatan manusia dalam pembangunan menyebabkan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer semakin bertambah, termasuk penggunaan bahan bakar fosil, proses penguraian sampah dan limbah, penggunaan pupuk kimia serta pembakaran jerami.

Salah satu program untuk mengurangi pemanasan global itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia terus mendorong partisipasi aktif masyarakat dan seluruh pihak dalam melaksanakan aksi lokal untuk meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim dan pengurangan emisi GRK, melalui pelaksanaan Program Kampung Iklim (Proklim) sejak tahun 2012 lalu.

Salah satu desa yang kini sedang giat untuk merintis sebagai Kampung Iklim adalah Desa Karangtalun, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Setiap minggu pertama dalam setiap bulannya, warga masyarakat di sana digiatkan untuk melakukan gerakan gotong royong berupa pembersihan dan penataan wilayah desa. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi Kampung Iklim yang tidak lama lagi akan diluncurkan.

Kepala Desa Karangtalun Untung Setiyanto, SE. (eko)

 

Kepala Desa Karangtalun Untung Setiyanto, SE, mengatakan bahwa gerakan gotong royong telah menjadi kesepakatan seluruh warga. Diagendakan, kerja bakti massal ini akan dilakukan secara rutin pada pekan pertama setiap bulannya.

“Dalam kegiatan itu melibatkan semua unsur, sehingga tidak hanya orang tua dan dewasa, namun para remaja maupun anak kecil pun kompak ikut serta kerja bakti di lingkungan sekitar mereka,” katanya.

“Konsentrasi pertama kita mulai dengan menata wajah muka desa dan kerja bakti massal berikutnya akan kita lakukan penghijauan,” imbuhnya.

Dijelaskan lebih detail, bahwa Desa Karangtalun yang berada di bagian selatan Kabupaten Purworejo ini, memiliki topografi wilayah dataran rendah dan didominasi area persawahan padi. Kondisi tanah yang subur juga menjadikannya mudah dalam mengembangkan berbagai jenis tanaman palawija lainnya.

“Kampung Iklim dipilih menjadi program unggulan desa sesuai dengan kondisi itu dan beragam potensi yang ada. Salah satunya kita sudah memiliki Bank Sampah Berlian yang sudah berjalan sekitar 4 tahun ini,” paparnya.

Warga masyarakat Desa Karangtalun saling bahu membahu kerja gotong royong (eko)

 

Harapannya Kampung Iklim dapat berjalan dan menjadi percontohan di Kabupaten Purworejo. Lebih dari itu, dengan adanya kampung Iklim sekitar  170 kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa 496 jiwa, penduduknya dapat merasakan manfaat dari aspek kebersihan dan penataan lingkungan yang indah.

“Semua potensi akan kita garap. Ini sekaligus menjadi upaya peningkatkan derajat kesehatan dan kesejateraan perekonomian masyarakat Desa Karangtalun,” ungkapnya.

Untung menjelaskan, adanya semangat warga juga mendorong pemerintah desa untuk menjadikan Karangtalun sebagai Kampung IT dan Kampung Wisata. Pihaknya optimis program tersebut dapat terwujud dalam waktu dekat.

“Kita sudah memiliki perencanaan lingkungan yang matang. Dan modal utamanya adalah semangat dari warga,” jelasnya.

Hal itu juga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri karena bisa ikut mensukseskan Program Nasional Bidang Lingkungan Hidup. Karena kenaikan suhu bumi meningkatkan ancaman terhadap risiko terjadinya bencana terkait iklim seperti banjir, longsor, kekeringan, gagal panen, keragaman hayati, kenaikan air laut serta kesehatan manusia.

“Kami telah memulai aksi nyata untuk peduli terhadap lingkungan sekitar, untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim serta upaya pengurangan emisi GRK sebagai komponen yang diperlukan dalam pembangunan berkelanjutan. Kami akan terus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi,” imbuhnya.

(Eko Mulyanto)