Fenomena Berakal Namun Tidak Beretika

Dewasa ini kita sering menyaksikan perilaku orang-orang yang berakal namun tidak beretika. Parahnya lagi, hal itu bisa dijumpai di sekitar kita. Sangat dimungkinkan itu disebabkan oleh kurangnya kesadaran sebagian orang di masyarakat akan pentingnya beretika dalam pergaulan sehari-hari.

Lantas seberapa pentingkah etika itu sendiri di tengah kehidupan sosial masyarakat modern yang kini seakan lebih disibukkan oleh rutinitas pekerjaan yang berjibun namun dituntut harus bisa terselesaikan dalam waktu singkat? Lantas menurut kalian seberapa pentingkah etika itu dalam kehidupan?

Sebelum lebih jauh membicarakannya, ada baiknya kita cari tahu terlebih dahulu mengenai definisi etika itu sendiri. Etika adalah suatu norma atau aturan yang dipakai sebagai pedoman dalam berperilaku di masyarakat bagi seseorang terkait dengan sifat baik dan buruk. Ada juga yang menyebutkan pengertian etika adalah suatu ilmu tentang kesusilaan dan perilaku manusia di dalam pergaulannya dengan sesama yang menyangkut prinsip serta aturan tentang tingkah laku yang benar. Dengan kata lain, etika adalah kewaijban dan tanggungjawab moral setiap orang dalam berperilaku di masyarakat.

Tetapi antara Akhlak, Etika dan Moral mempunyai arti yang berbeda meskipun sama-sama dalam membahas perilaku. Letak perbedaannya adalah jika Akhlaq itu berasal dari tuhan atau agama, Etika berasal dari akal manusia dan Moral itu berasal dari adat serta budaya. Ada beberapa perilaku bisa dianggap beretika tetapi belum tentu berakhlak. Sebagai contoh, di dalam agama Islam kita dilarang berpacaran. Akan tetapi lain halnya dalam etika, karena berpedoman pada akal manusia, sehingga pacaran itu dianggap sesuatu hal yang wajar, asalkan perilakunya masih sehat dan bisa diterima oleh masyarakat. Ada juga suatu perilaku yang mempunyai etika tetapi tidak mempunyai moral, seperti membungkukkan badan ke orang yang lebih tua pada saat berjalan. Padahal dalam etika yang dipikir secara akal manusia itu tidak terlalu dipermasalahkan asalkan tetap menghormati.

Terdapat beberapa karakteristik etika yang membedakannya dengan norma lainnya. Adapun ciri-ciri etika adalah sebagai berikut :

  • Etika tetap berlaku meskipun tidak ada orang lain yang menyaksikan.
  • Etika sifatnya absolut atau mutlak.
  • Dalam etika terdapat cara pandang dari sisi batiniah manusia.
  • Etika sangat berkaitan dengan perbuatan atau perilaku manusia.

Etika itu sendiri pada dasarnya kembali lagi kepada hati nurani. Pantas atau tidaknya ketika melakukan hal seperti itu, etis apa tidak kalau melakukan hal seperti itu dan sebagainya. Etika itu berasal dari diri manusia itu sendiri, antara akal dan hati. Mungkin bisa dikatakan etika itu sesuatu perilaku yang manusiawi atau tidak.

Semua manusia itu mempunyai akal tetapi belum tentu semua manusia mempunyai etika. Oleh karena itu, setiap manusia harus memberi asupan untuk dirinya tentang berperilaku dengan baik yang tidak hanya tentang etika, akan tetapi juga membahas akhlak maupun moral. Sangat dianjurkan, atau bahkan diharuskan apabila ingin memberi edukasi mengenai berperilaku yang baik sejak dini. Sebab jika diberikan edukasi sejak dini, maka akan tertanam lebih kuat sehingga bisa mudah diarahkan.

Di dalam dunia kerja pun juga ada etika yang disebut sebagai kode etik. Kode etik itu adalah sesuatu aturan yang tertulis serta sengaja dibuat dengan prinsip-prinsip etika dan dapat digunakan saat sesuatu hal yang menyimpang dari kode etik. Salah satu tujuan kode etik diciptakan ialah sebagai pelindung dari perbuatan yang tidak sesuai etika pekerjaannya tersebut. Ada beberapa contoh kegiatan suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan kode etiknya, seperti seorang oknum polisi tidak menegur atau menilang pengendara yang melakukan kesalahan karena memiliki hubungan kerabat. Padahal dalam suatu kasus tersebut bisa saja ditilang karena melakukan kesalahan, akan tetapi si oknum polisi tadi memiliki hubungan emosional yang erat dengan sang pengendara sehingga ia bebas dari hukum atas keselahannya itu.

Etika di dalam agama Islam, bersifat universal serta sebagian besar juga diperlukan kesempatan manusia dan akal manusia. Definisinya ialah tingkah laku manusia yang dilaksanakan dalam bentuk ucapan, perbuatan dan pikiran yang bermanfaat, tidak merugikan dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an maupun Hadits. Etika dalam Islam pun juga ada alirannya yang dibagi menjadi 3 yaitu : Moralitas Skriptual (yang tertulis skrip seperti Al-Quran), Etika Teologis, dan Etika secara religius.

Kesimpulannya adalah segala sesuatu pekerjaan dan tindakan di berbagai bidang sangat diperlukan sebuah etika, mulai sejak usia dini hingga meninggal. Etika harus digunakan dalam berbagai aspek di kehidupan bermasyarakat. Semua manusia diberikan akal oleh Allah tetapi tidak semua manusia memiliki etika, sebenarnya juga etika itu sendiri berfungsi sebagai alat kontrol dalam akal manusia itu sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta