Dampak Penggunaan Smartphone Terhadap Perkembangan Sosial Dan Psikologi Anak Usia Sekolah Dasar (SD)

Pendahuluan

Penggunaan smartphone secara terus-menerus berdampak buruk bagi pola perilaku anak dalam kesehariannya, anak-anak yang cenderung terus-menerus menggunakan smartphone akan sangat ketergantungan dan menjadi kegiatan yang rutin untuk dilakukan oleh anak dalam aktivitas kesehariannya, tidak dipungkiri saat ini anak lebih sering bermain smartphone dari pada belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, hal ini sangat mengkawatirkan.

Menurut Hurlock (2016:76-108) Masa anak-anak dimulai dari bayi, yakni usia 2 tahun sampai anak matang secara seksual. Selama periode usia 11 tahun bagi perempuan dan 12 tahun bagi laki-laki terjadi perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun psikologi. Masa anak-anak terbagi menjadi dua tahap, yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal dimulai sejak usia 2-6 tahun, sedangkan masa anak-anak akhir dimulai sejak usia 6 tahun sampai saat anak matang secara seksual.

Sebagian anak cenderung merasa asik menikmati sajian game dari sebuah smartphone yang dimiliki dibandingkan bermain dengan teman sebayanya di lingkungan rumah. Oleh karena itu peran orangtua sebagi institusi yang pertama terhadap anak-anaknya harus selalu dilakukan. Selain peran orangtua, lingkungan juga dapat mempengaruhi dengan cara menciptakan lingkungan sosial yang kondusif, membangun interaksi pendidikan atau proses pembelajaran yang bermakna. Jangan sampai orangtua mengandalkan smartphone untuk menemani anak, dan orangtua membiarkan anak lebih mementingkan smartphone supaya tidak merepotkan orangtua.

Hasil pengamatan yang penulis lakukan pada anak usia Sekolah Dasar yang suka bermain smartphone hasilnya adalah 1) Anak-anak lebih mementingkan bermain smarphone dari pada melakukan rutinitas yang seharusnya dilakukan setiap hari. Seperti belajar, makan, mandi tidur dan lainya tidak mau karna lebih asyik main smartphone. 2) Jika sudah asik dengan smartphone ditangan, anak-anak sering tidak menengok kanan kiri dan tidak memperdulikan siapa orang yang ada disekitarnya. 3) Tidak mau menyapa orang yang lebih tua. Hal ini akibat penggunaan smartphone yang berlebihan. Dari pengamatan kepada beberapa orangtua yang memiliki anak usia Sekolah Dasar mengeluh: anak mereka lebih asik dengan smartphone dari pada mendengarkan perintah orangtua, anak-anak jadi lupa beribadah bahkan magrib sampai terlupakan. Anak suka senyum, tertawa sendiri, anak suka marah jika diperintah orangtua. Inilah salah satu bentuk kecanduan terhadap smartphone yang dimiliki. Lebih mementingkan benda mati dari pada dunia nyatanya.

Pembahasan

Menurut Fathoni (2017) Gadget merupakan teknologi yang sangat populer sekarang ini, orang dewasa maupun anak-anak menggunakan gadget. Dimana banyak produk-produk gadget yang menjadikan anak-anak sebagai target pasar mereka dan anak-anak kini telah menjadi konsumen aktif pengguna gadget. Menurut Saroinsiong, (2016) penggunaan gadget berdampak merugikan pada ketrampilan interpersonal anak jika terlalu sering digunakan. Pengaruh handphone terhadap prestasi belajar siswa yang lain adalah siswa menjadi lebih mengandalkan handphone dari pada harus belajar.

Dari hasil penelitian anak menunjukkan bahwa anak lebih banyak menggunakan smartphone untuk bermain game online dan menonton youtube, sesekali membuka internet untuk membantu belajar dan berkomunikasi melalui whatsapp. Beberapa anak dibatasi untuk menggunakan smartphone oleh orangtuanya, namun ada anak yang saat handphonenya diminta ia marah dan merajuk. Anak yang bermain handphone terlalu lama akan merasa pusing dan matanya akan memerah kemudian pandangan menjadi kabur. Anak belum mampu mengendalikan emosi dan rasa panik.

Dampak negatif dari samartphone pada perkembangan psikologi anak terutama aspek pertumbuhan emosi dan perkembangan moral yaitu anak malas melakukan aktivitas fisik, anak menjadi pemarah, anak sering membangkang, anak meniru tingkah laku yang ada pada game, sering berbicara sendiri pada Smartphone, lupa ibadah, dan tentunya membuat mata menjadi sakit jika terlalu lama memainkan Smartphone. Pengaruhnya pada perkembangan sosial yang terjadi saat ini anak menjadi malas belajar, kurang perduli terhadap sesama, anak menjadi lebih jahil, anak bersifat individual.

Dengan adanya pandemi ini guru tidak bisa mengontrol kegiatan anak selama di rumah. Orangtua pun hanya sebagian yang mampu mengontrol kegiatan anaknya, karna orangtua harus bekerja pagi pulang sore/malam, jadi anak dibebaskan memegang Smartphone. Apalagi semua kegiatan di masa pandemi ini menggunkan media online, mau ga mau orangtua harus mengijinkan anaknya untuk memegang Handphone dengan jangka waktu yang lebih lama.

Solusi  dari permasalahan smartphone diatas antara lain:

  1. Memberikan pendampingan kepada anak saat anak bermain  smartphone
  2. Membuat kesepakatan  waktu dalam penggunaan smartphone agar anak terbiasa disiplin waktu
  3. Membuat kesepakatan fitur-fitur atau aplikasi apa saja yang boleh dibuka atau dilihat oleh anak
  4. Ketika waktu anak bermain Smartphone habis usahakan orangtua tua mengajak anak bereksplorasi yang menyenangkan agar anak tidak melulu  ingin Smartphone seperti:

Mengajak anak  merawat/menanam tanaman, mengajak anak membuat jajanan, mengajak anak membuat karya yang menarik (tirai, pot botol, dll), belajar bersama adik/kakak, mengajak anak bermain atau olahraga seperti Badminton, catur, tenis, carambol, renang, bersepatu roda, bersepeda dll.  Karna orangtua disini sebagai contoh yang mereka tiru maka ketika kita melarang anak memegang Smartphone sebaiknya orangtua juga jangan bermain smartphone,

  • Orangtua harus selalu punya ide permainan/kegiatan yang menarik buat anak-anaknya. Buatlah kegiatan setiap harinya yang berbeda-beda agar anak tidak bosan.

Jika orangtua berangkat kerja mintalah anak membuat pekerjaan yang mereka sukai, bicarakana pada anak sebelumnya “ besuk kita mau buat ap ya, jika anak mempunyai ide, hargailah idenya” jangan lupa setelah orangtua pulang kerja dan apa yang diminta orangtua telah dikerjakan berikanlah reward, agar anak lebih bersemangat dan muncul ide-ide yang menarik lainnya.

Nur Asiyah

Program Studi Pendidikan Dasar  Pascasarjana UPGRIS