Lompatan Perilaku Seks Anak Usia Sekolah Dasar dan Solusinya

II.I Problematika yang Terjadi

Problematika anak sekolah usia sekolah dasar yakni 6 hingga 12 tahun secara menurut teori Sigmund Freud adalah usia laten atau masa tenang karena anak pada usia tersebut tidak terlalu menaruh perhatian pada diri dan bagian tubuhnya dan anak sedang disibukkan untuk kegiatan-kegiatan bersosial dan berprestasi. Namun saat-saat ini perubahan keadaan dan pola pendidikan yang berubah dari pendidikan menjadi pendidikan daring mengharuskan anak untuk berdekatan dengan smartphone dan program internet. Dari disini kita melihat banyak terjadi efek dari pada penggunaan internet khususnya di bidang pornografi anak usia sekolah dasar yang mestinya merupakan fase laten sekarang banyak kita jumpai mereka sudah menuju kepada fase genital untuk usia remajanya.

Kita melihat anak usia 9 sampai 10 tahun sudah banyak yang mengalami menstruasi atau haid sehingga perubahan fisik dan psikis sudah mulai nampak pada anak wanita di usia tersebut. Yang kedua akses informasi yang sangat mudah. Menurut hasil penelitian Max (2009), bahwa anak dan remaja adalah pengguna teknologi informasi dan komputer yang paling sering di rumah.

II.II Sebab

Hal ini karena para orangtuanya pada saat ini, apalagi dengan adanya kata pandemi ini, orang tua tetap berjalan untuk mencari nafkah anak pun berjalan sendiri dirumah untuk mendapatkan pendidikan dengan cara daring. Sehingga akses pornografi mudah untuk diakses anak-anak yang ketiga berita tentang pornografi bagi anak usia sekolah dasar sudah banyak kita jumpai. Diantaranya banyak anak yang bermain dengan teman karena di rumah kosong dan orang tua bekerja semua.

Anak sekolah dasar ini benar-benar perlu menjadi perhatian besar. Baik orang tua dan seluruh institusi serta pemerintah karena kita ketahui bahwa usia sekolah dasar masih merupakan usia pertumbuhan. Untuk sisi fisik dan psikis, penelitian oleh Harvinggust mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial dan pengaruh pornografi. Menurut psikolog anak, Elisabeth, desa-desa saat anak terekspos grafik di bawah sebelum berusia 10 tahun akan terganggu perkembangan emosi dan seksualnya karena konten pornografi akan secara permanen di otak anak. Menurut dokter Chip Backman, dalam bukunya mengatakan bahwa anak yang terekspos pornografi akan mengalami ketergantungan seks.

II.III Bukti-Bukti

Guna memperkuat data, berikut penulis lampirkan beberapa bukti-bukti nyata yang telah terjadi pada anak usia sekolah dasar yang menunjukkan keresahan atas penyimpangan perilaku yang berkaitan dengan seks :

  1. @GAYSDSMPSMA -Komunitas
  2. Kita SUKA Untuk Bergabung ID@1509326609364940.(facebook)
  3. Blog untuk anak gay.GAY ANAK SEKOLAH ( SD-SMP-SMA)

II.IV Penyelesaian yang Terjadi di Lapangan

 Dari tulisan-tulisan yang ada sebagian besar belum memberikan solusi yang pasti untuk langkah-langkah menanggulangi pornografi. Namun hanya sebatas sebagai suatu penelitian atau persoalan yang dikemukakan. Untuk itulah penulis melihat bahwa Islam memiliki langkah-langkah untuk menanggulangi anak dari efek melihat internet yang berkonten pornografi.

II.V Langkah Penanggulangan

  • Langkah penanggulangan yang pertama bahwa anak usia 1 anak usia 2 tahun mulai dipisahkan tidur dari orang tuanya. Mengapa hal tersebut perlu? Karena anak berusia 2 tahun mereka adalah anak yang sudah mengenal akan keadaan lingkungan di sekitarnya.
  • Langkah yang kedua saat anak usia 3 tahun anak mulai dikenalkan dengan aurat. Aurat adalah bagian dari tubuh manusia yang tidak boleh dilihat tidak boleh dipegang oleh orang yang bukan mahramnya. Mahram adalah orang yang haram hukumnya untuk dinikahi. Untuk itulah mulai usia 3 tahun anak dikenalkan untuk menutup bagian-bagian tubuh yakni mulai dada dan lainnya. Usia 3 tahun tahap phalik dimana pada usia ini anak ada kesenangan merasakan rangsangan alat kelamin sehingga anak perlu diberi tahu dan dilatih untuk melindungi alat kelaminnya dari perbuatan dan penglihatan orang lain (Sigmund Freud).
  • Selanjutnya di usia 4 tahun anak mulai diajarkan untuk mempertahankan diri dari orang lain. Mempertahankan diri dari bagian-bagian badannya untuk dipegang atau dilihat oleh orang lain. Kemudian pada usia 6 tahun anak mulai dikenalkan untuk bermain dengan sesama jenis. Pada usia 7 tahun anak mulai dikenalkan dengan surga dan neraka. Cara pengenalan surga dan neraka inilah anak akan dikenalkan tentang kedudukan sebagai makhluk Allah dan kedudukan Allah sebagai pencipta dan pengatur.
  • Usia 7 tahun anak sudah memiliki kemampuan menganalisa informasi memahami benar salah dan menalar Untuk itulah pada usia ini anak sudah bisa mulai diberitakan tentang hal-hal yang bersifat ke ilahiyah and atau ketuhanan

Usia 9 tahun anak sudah dapat berpikir reversible dan kekekalan sehingga anak sudah dapat mengenal perputaran masalah dan dan tentang hal-hal yang akan selalu ada atau kekekalan yakni sebab akibat dari suatu keadaan untuk mendapatkan suatu hasil yang kekal dalam kurung surga atau neraka.

Ade Yari Choirunnisa

PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN DASAR UNIVERSITAS PGRI SEMARANG