Implementasi Serta Problematika Pembelajaran Tematik di SD Pada Kurikulum 2013

Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa mata pelajaran yang dibungkus menjadi satu tema dengan tujuan memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Pengalaman bermakna disini maksudnya anak memahami konsep – konsep yang telah mereka pelajari itu melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

Pembelajaran tematik muncul semenjak  diterapkannya kurikulum baru yaitu kurikulum 2013 sebagai penyempurna kurikulum KTSP yang sudah bejalan sebelumnya. Sebenarnya, pembelajaran tematik sudah mulai diperbicangkan oleh pakar pendidikan di tahun 1999, loh. Pelatihan tematik dari dinas pendidikan pernah mensosialisasikan tematik dari daerah ke daerah hampir seluruh Indonesia. Beberapa komentar dari berbagai pelatihan tematik yaitu: masih banyak guru yang masih bingung dengan pembelajaran tematik walaupun sudah dilaksanakan dari tahun 2002 tapi masih banyak yang salah persepsi mengenai pembelajaran tematik.

Sejak awal diimplementasikan pembelajaran tematik, pelaksanaannya tidaklah berjalan dengan mulus. Hingga saat ini terdapat banyak penelitian yang dilakukan dari berbagai daerah di Indonesia mengenai kesulitan dan kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan pembelajaran tematik. Kendala-kendala tersebut antara lain dalam tahap perencanaan, guru belum mampu membuat pemetaan kompetensi seperti yang seharusnya.  Sementara pada tahap pelaksanaan, pembelajaran masih didominasi oleh guru, pembelajaran masih konvesional dan hanya terfokus pada pemberian tugas saja sehingga memberatkan siswa, tidak adanya pemaduan antar muatan pelajaran dalam pembelajaran tematik, belum terlihat konsep pembelajaran seperti learning by playing dan learning by doing, serta kurangnya penguasaan IT untuk mengembangkan media pembelajaran sebagai alat bantu proses pembelajaran. Pada tahap penilaian, didapati bahwa penilaian cenderung pada ranah kognitif saja, padahal proses pembelajaran pada kurikulum 2013 harus menyentuh pada tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif, ranah psikomotor. Proses penilaian terhadap hasil belajar menggunakan penilaian autentik.

Pembelajaran tematik mempunyai implikasi pada siswa terutama dalam proses belajarnya. Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran apabila pengemasan pembelajaran tematik yang diakukan oleh guru terencana dengan baik dan terlaksana dengan baik. Kompleksnya kurikulum 2013 memang tidak dapat dihindari. Hal ini menjadi kendala bagi para guru karena tidak semua guru memiliki kompetensi tersebut seperti kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Namun dalam proses pembelajaran, kompetensi pedagogik mempunyai peranan yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan tugas pokok seorang guru, yakni sebagai pengelola proses pembelajaran.

Kendala tersebut tentunya menjadi tantangan bagi guru untuk menyiapkan perangkat pembelajaran diantaranya  silabus, RPP, dan lain-lain. Jadi saat guru-guru diberikan silabus yang menggunakan pembelajaran tematik dari dinas pendidikan setempat maka guru akan paham bukan hanya sekedar tunduk pada dinas tanpa tahu tujuan dan cara penerapan pembelajaran tematik. Guru yang kompetensinya bagus, dalam mengemas pembelajaran cenderung dalam mengembangkan pembelajaran menyesuaikan karakteristik siswa dan kebutuhan siswa.

Kompetensi guru dalam pembelajaran tematik merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam pendidikan pada umumnya. Tuntutan memiliki kompetensi yang bagus mendorong guru untuk memperoleh informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan. Kompetensi guru bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling mendukung antara satu dengan yang lain, akan tetapi dalam proses pembelajaran, kompetensi pedagogik mempunyai peranan yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan tugas pokok seorang guru, yakni sebagai pengelola proses pembelajaran (Khofiatun, 2016). Implementasi pembelajaran tematik sangat tergantung dari perencanaan pembelajaran yang dibuat guru yang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Dengan adanya kendala/problema yang muncul maka perlu disempurnakan lagi baik dari segi konteks, input, proses maupun produk agar implementasi pembelajaran tematik pada sekolah dasar menjadi efektif. Dengan hal itu maka diperlukan upaya guru dalam perannya sebagai fasilitator, mediator dan orang tua bagi siswa SD agar siswa mampu mengekplorasi dirinya sendiri serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan peserta didik dengan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.

Penulis             : Nurul Khusnaeni

Prodi               : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Instansi            : Universitas Muhammadiyah Purworejo