Permasalahan Pada Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar Saat Diterapkannya Sistem Daring

Proses pembelajaran di masa pandemi Covid-19 adalah pembelajaran daring atau pembelajaran dalam jaringan, merupakan sebuah tantangan baru bagi dunia pendidikan. Kesiapan seluruh komponen stakeholder pendidikan menjadi kunci dari optimalnya pembelajaran daring.

Pembelajaran daring atau pembelajaran dengan jaringan konsepnya yaitu melangsungkan proses kegiatan belajar mengajar tanpa perlu bertatap muka secara langsung dengan siswa atau guru dapat menyampaikan materi pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh melalui akses online. Hakikat dari pembelajaran daring adalah bagaimana proses belajar tetap berlangsung selama di rumah. Pembelajaran daring ini merupakan kebijakan pemerintah yang harus diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19.

Pembelajaran sains di tingkat sekolah dasar (SD) dikenal sebagai pembelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran pokok dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Pada dasarnya pembelajaran sains pada tingkat sekolah dasar (SD) yaitu menuntut keterampilan proses yang sangat berguna bagi kehidupan siswa.  Sains dapat dijadikan sebagai media bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan cara menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.Pembelajaran sains sangat berperan penting dalam memajukan daya pikir manusia dalam memecahkan masalah kehidupan.

Dari sudut pandang teori kognitif, kemampuan anak usia sekolah dasar (SD) umur 7 atau 8 – 11 atau 12 tahun berada pada tingkat operasional konkret artinya anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Bagaimanapun juga pembelajaran sains yang diterapkan di masa pandemi Covid-19 adalah melalui sistem daring atau hanya melalui koneksi internet, dengan memanfaatkan aplikasi seperti WhatsApp, Ruang Guru, Youtube dan aplikasi belajar lainya. Sudah pasti pelaksanaannya tidak seefektif pembelajaran  secara langsung.

Praktik pembelajaran sains tentu tidak dapat disamakan seperti sebelumnya. Dalam kondisi daring ini, kegiatan praktik jika dilakukan secara mandiri di rumah tentu menimbulkan masalah baru yakni pemahaman siswa menjadi beda-beda dikarenakan minimnya keterlibatan guru dalam proses kegiatan  pembelajaran.

Tidak hannya pembelajaran sains yang memiliki permasalahan, mata pelajaran lainpun juga mengalami kendala. Kurangnya fasilitas yang mendukung kegiatan belajar daring dan penguasaan teknologi dapat mengakibatkan penyampaikan materi pembelajaran kurang maksimal dan pembelajaran tidak berjalan efektif, hal tersebut juga dapat memicu penurunan minat belajar siswa.

Orang tua mengeluhkan, jika pembelajaran daring mengakibatkan anaknya menjadi malas dan sering menunda-nunda untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dari hal tersebut menandakan bahwa pembelajaran daring dapat mengakibatkan penurunan minat belajar siswa.

Kekhawatiran muncul dan dirasakan oleh orang tua serta guru jika pembelajaran daring terus berlangsung takutnya akan menimbulkan ketergantungan anak dengan gadget, malas membaca buku, dan menurunkan keterampilan sosial anak.

Keterampilan sosial merupakan kompetensi yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang termasuk di dalamnya peserta didik, agar dapat memelihara hubungan sosial secara positif dengan keluarga, teman sebaya, masyarakat dan pergaulan di lingkungan yang lebih luas. Selanjutnya pengaruh yang timbul pada keterampilan sosialisasi anak menurut Santoso (2019) diantaranya sebagai berikut:

  1. Membantu anak untuk belajar bersama dengan orang lain dan bertingkah laku yang dapat diterima oleh kelompok.
  2. Membantu anak mengembangkan nilai-nilai sosial yang cenderung lebih mementingkan orang lain daripada kepentingan sendiri.
  3. Membantu mengembangkan kepribadian yang mandiri dengan mendapatkan kepuasan emosional dari rasa berkawan.

Berbagai model atau pendekatan pembelajaran yang diterapkan guru pada saat pembelajaran tatap muka, tentu dapat menumbuhkan keterampilan sosial anak , namun kini pembelajaran hanya melalui daring sehingga keterampilan sosial anak hanya diperoleh melalui lingkup kecil yaitu lingkup keluarga.

Kebiasaan siswa dalam mendapatkan kemudahan-kemudahan yang diterima selama kegiatan belajar daring yang belum tentu mendidik, dikawatirkan akan menimbulkan penurunan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Melalui perencanaan yang terarah setidaknya dapat mengantisipasi atau meminimalisir problematika yang ada, sehingga pembelajaran bisa berjalan normal dan tujuan pembelajaran tercapai.

Adanya pembelajaran daring orang tua dapat memberikan perhatian lebih kepada anak dengan cara memberikan arahan positif dan semangat belajar sehingga dapat memberikan kondisi belajar yang menyenangkan meskipun di rumah. Guru juga dapat memberikan upaya untuk meningkatkan pengoptimalan kegiatan belajar daring dengan tidak memberikan beban tugas yang terlalu banyak, begitupun pada sistem penilaian yang sifatnya lebih memberikan motivasi kepada siswa. Bagaimanapun juga aktivitas dan tugas pembelajaran di rumah dapat bervariasi antar peserta didik yaitu disesuaikan dengan minat dan kondisi masing-masing dengan mempertimbangkan kesenjangan akses belajar dan teknologi.

Kita bisa melihat banyak permasalahan yang muncul pada pembelajaran secara daring. Namun kita ambil hal positif dari pembelajaran daring karena pandemi Covid-19 ini. Diantaranya, siswa memperoleh perhatian lebih dari orang tua, siswa maupun guru dapat mengetahui potensi internet yang luar biasa untuk digunakan pada sektor pendidikan, proses belajar dapat dilakukan dimanapun kapanpun tanpa batasan ruang dan waktu, dan dengan pembelajaran daring ini memudahkan akses guru maupun siswa memperoleh informasi.

Bagaimanapun juga pendidikan di Indonesia mengalami proses panjang untuk menuju perubahan kebaikan. Kita sebagai warga negara yang baik perlu mendukung segala upaya pemerintah dalam rangka perbaikan program pembelajaran. Guru tetap melaksanakan kewajiban untuk mencerdaskan anak bangsa apapun kondisinya. Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Peserta didik bisa belajar tatap muka kembali, belajar bersama dengan teman-temannya, sehingga memperoleh pendidikan yang optimal kembali.

Oleh : Sherin Damayanti

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purworejo