Pembelajaran Terbimbing Untuk Meningkatkan Minat Pemahaman IPA

Pembelajaran IPA adalah dimana pembelajaran yang mempembelajari ilmu alam, yang akan digunakan pada ilmu alam ini dengan obyeknya yaitu benda alam dengan hukum yang pasti dan umum yang berlaku kapan pun dan di mana pun. Pembelajaran terbimbing dimana akan dilakukan di dalam ruangan, yang akan membutuhkan fasilitas seperti ruang kelas. Untuk tercapainya keinginan yang maksimal, maka ruang kelas tersebut harus memiliki fasilitas yang lengkap, tentunya fasilitas dalam proses pembelajaran IPA. Pada fasilitas pembelajaran IPA yaitu bisa menggunakan media, dengan tujuan agar siswa bisa memahami materi dengan cepat dan tidak membosankan. Sebagai pendidik di masa sekarang, tepatnya di masa new normal maka media yang harus di siapkan bisa berupa media audio maupun media visual. Dimana jika kita tidak bisa untuk mengikuti pembeajaran secara nyata, dan dalam proses  pembelajaran terbimbing IPA ini tidak tertinggal maka kita bisa memberikan media audio yang akan di kirim melalui koneksi internet.

Subjek pada proses adanya pembelajaran terbimbing ini sebagian besar yaitu peserta didik, yang akan paling dominan adalah peserta didik dari jenjang sekolah dasar. Selain dengan peserta didik, bisa juga menggunakan penggunaan data seperti adanya data dari observasi, dokumentasi, maupun data wawancara. Subjek harus berjalan dari tahap ke tahap, dalam artian bahwa tidak bisa langsung mengikuti pada garis akhirnya saja. Dengan adanya karakter peserta didik yang berbeda-beda akan membuat subjek dari proses pembelajaran ini akan membutuhkan waktu tidak hanya sebentar. Dari perbedaan karakter dari peserta didik ini jika tidak kita oah maka tidak akan bisa berjalan sesuai dengan tujuan yang sama. Perbedaan ini bisa di pengaruhi karena adanya lingkungan keluarga yang dimana pendidikan yang di tempuh juga berbeda-beda, selain lingkungan keluarga juga bisa di pengaruhi karena faktor dari luar yaitu dengan contoh masyarakat atau teman sebaya. Proses awal yang harus di terapkan pada peserta didik ini yang merupakan dari jenjang sekolah dasar, yaitu dimulai dari pendidikan keluarga terlebig dahulu. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh besar untuk proses langkah kedepannya peserta didik tersebut.

Perihal mendidik anak bukanlah hal yang mudah atau sepele, kita harus bisa mengetahui karakteristik satu satu dari adanya peserta didik tersebut. Tujuan dari adanya mengetahui karakteristik ini yaitu guna untuk mengolah peserta didik agar bisa menjadi peseta yang mudah di atur dan bisa mengikuti proses pmebeajaran secara baik hingga tercapainya tujuan yang memuaskan secara bersama-sama. Tak lupa, seorang guru juga harusbisa memahami segala aspek yang di miliki dari peserta didik ini. Baik aspek dari perkembangan kognitif, moral, fisik, dan motorik anak dari peserta didik tersebut. Sesungguhnya pada proses mendidik merupakan tugas yang sangatlah mulia, pada proses mendidik itu merupakan kewajiban dari orang tuanya. Namun, guru hanya pembantu dalam proses pemahaman yang lebih dalam yang di lakukan pada umumnya di ruang kelas atau biasa orang membilang di sekolah. Maka peran dari adanya orang tua dan guru sangatlah pada peserta didik tersebut, dan harus di lakukan guna melengkapi satu sama lain.

Adanya wabah covid-19 ini, membuat para peserta didik harus meakukan proses pembelajaran di rumah. Dimana pembelajaran di rumah ini biasa di sebut dengan pembelajaran luring atau pembelajaran menggunakan koneksi internet. Pembelajaran pada proses ini jika tidak di pantau secara maksimal, maka akan membuat peluang buruk semakin membesar. Karena siswa di berikan atau di pegangkan Hp bisa saja peserta didik tersebut bukannya mengikuti proses pembelajaran, melainkan bermain game atau membuka sosial media lainnya. Pembelajaran luring juga akan bisa membuat proses pemahaman berkurang, karena tidak di lihat atau di lakukan secara nyata. Apalagi dengan pembelajaran IPA, yang dimana kita harus berusaha berfikir kritis dan harus mengikuti tahapan praktik. Kemampuan berpikir kritis yang digunakan, yaitu memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab, mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak, mendeduksi & mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi dan mempetimbangkan hasil induksi, mengidentifikasi asumsiasumsi, dan menentukan suatu tindakan.

Tetapi belajar tatap muka memiliki beberapa kekurangan, yang dimana biasanya guru hanya mengacu pada ketercapaian kompetensi yang hanya akan dicapai guru saja. Guru akan jarang menggunakan variasi model pembelajaran, atau bahkan jarang menggunakan media pembelajaran sehingga pembelajaran di kelas cenderung teacher center disebabkan model yang bersifat itu-itu saja. Jika proses pembelajaran dapat di lakukan secara nyata, maka akan menghadapi dari beberapa langkah penelitian. Dimana setiap langkah harus di tempuh atau di laksanakan. Langkah ini yaitu dengan cara lembar observasi untuk menilai keterlaksanaan proses pembelajaran, tes kemampuan berpikir kritis pada materi dan dokumen berupa foto-foto selama pembelajaran berlangsung. Pada proses pengambilan data akan dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing selama tiga kali pertemuan, kemudian memberikan posttest di akhir pembelajaran untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam memahami materi. Harapan dari peserta didik bisa mengikuti setiap langkah yaitu agar bisa mencapai niai akhir atau hasi yang maksimal, sehingga para peserta didik sangat paham dalam adanya materi tersebut. Besar harapan untuk hasil penelitian proses pembelajaran terbimbing berdampak lebih baik dari pada adanya proses pembelajaran yang tidak terbimbing.

Kekuatan penelitian juga harus di terapkan, contohnya yaitu adanya dari sebuah Indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan, yaitu akan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab, mempertimbangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak, mendeduksi & mempertimbangkan hasil deduksi, menginduksi dan mempetimbangkan hasil induksi, mengidentifikasi asumsiasumsi, dan menentukan suatu tindakan. Sehingga untuk kelemahan pada penelitian ini jika bisa tidak ada, atau minim saja. Peserta didik khususnya para sekolah dasar apabila tidak di bimbing secara maksimal maka akan membuat pemahaman berkurang, tidak hanya untuk pembelajaran IPA saja, melainkan juga pembelajaran lainnya. Materi IPA tidak hanya mempelajari materi alam saja, melainkan juga akan mempelajari listrik, kimia, dan lainnya. Pemikiran seperti adanya penalaran, ide, imajinasi, dan pemikiran kreatif pada peserta didik juga harus di tingkatkan. Siswa yang aktif tanpa adanya kata perintah maka siswa tersebut secara spontan jika di berikan materi akan berfikir secara kreatif, dalam artian peserta didik akan langsung bertanya tentang materi tersebut dan bagimana prosesnya dan langsung akan berfikir secara kreatif dengan ide yang ada di pemikirannya. Harapannya semua peserta didik satu dengan yang lainnya bisa sejalur dari proses pemahannya. Sehingga jika kita lakukan secara bersama-sama maka minat pembelajaran tebimbing khususnya untuk pemahaman IPA akan meningkat, karena dengan kegiatan yang asyik dan di lakukan dengan secara ke ikhlasan dan menikmati setiap proses tahap-tahapan sehingga pada proses pembelajaran akan berjalan secara lancar.

Oleh : Retno Meilasyari

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purworejo