Isu-isu Pembelajaran di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19, banyak memberikan dampak bagi kehidupan di dunia, salah satunya menyebabkan dampak di bidang pendidikan. Dampak tersebut ada yang bersifat positif maupun negatif. Salah satu dampak positifnya adalah para peserta didik maupun tenaga pendidik dituntut untuk bisa beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi yang mampu mendukung jalannya kegiatan belajar mengajar di sekolah. Mengingat adanya Pandemi Covid-19, memaksa pemerintah mengubah kebijakan politik nasional, maupun kebijakan pendidikan dari kegiatan belajar mengajar secara tatap muka menjadi pembelajaran secara online atau daring. Sehingga bisa saja terjadi penyesuaian kebijakan seperti kurikulum sekolah, perubahan susana pendidikan, maupun proses pembelajaran lainnya.

Pembelajaran daring menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan di Indonesia, yang memiliki beribu-ribu pulau dan suku bangsa. Bagaimana menyediakan akses internet di daerah-daerah terpencil, yang merupakan salah satu tantangan berat bagi semua pihak. Dimana permasalahan nyata yang dihadapi oleh para siswa maupun mahasiswa yang kurang beruntung terkait kemampuan ekonominya, harus bisa beradaptasi dalam mengikuti pembelajaran secara daring.

Negara Indonesia yang memiliki masyarakat beragam, baik suku, agama, ras, dan budaya, berpotensi tinggi akan munnculnya perbedaan pandangan, dan pendapat terkait adanya perubahan kebijakan kegiatan belajar dan mengajar tadi. Hal itu menuntut para penyenggelaraan pendidikan harus mampu mendorong dan menopang para pendidik agar bisa beradaptasi serta memberikan pengertian kepada semua lapisan masyarakat terkait adanya perubahan kebijakan yang terjadi.

Beberapa isu permasalahan pendidikan yang muncul diantaranya pendidikan yang dinilai kehilangan obkjektivitas dan diduga jauh dari realistis, yang dihadapi oleh peserta didik di masyarakat. Belum mampunya kemandirian mereka, untuk memecahkan masalah dan menghadapi tantangan baru dunia pendidikan tersebut. Belum lagi saat pemerintah menetapkan beberapa kebijakan baru, yaitu berupa inovasi bidang kurikulum dan peningkatan profesionalitas guru.

Hal itu muncul berdasarkan asumsi bahwa keberhasilan dalam mencapai kemajuan, tergantung pada pencapaian keberhasilan kualitas pendidikan yang baik pada proses sebelumnya. Kemudian mempersiapkan dan menciptakan guru-guru professional yang memiliki tanggung jawab tinggi, sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas para pendidik.

Salah satu upaya peningkatan profesionalitas guru, agar memiliki pengetahuan yang memadai dalam menjalankan pekerjaanya, dapat diperoleh dari latihan atau pendidikan khusus keguruan. Sebab pendidikan pada dasarnya memiliki peran penting dalam membangun peradaban manusia.

Kualitas pendidikan, di negara maju jauh berbeda dengan kualitas pendidikan di negara berkembang. Oleh karena itu, di negara berkembang masih dihadapkan berbagai permasalahan terkait dengan guru dan kulitas guru yang rendah. Seorang guru dituntut memiliki kompetensi yang baik agar dapat membangun generasi yang lebih baik pula. Guru dituntut bisa menguasai semua bidang pelajaran, meskipun terkadang masih terdapat mata pelajaran yang belum mereka pahami. Akibatnya banyak guru yang mengalami kesulitan dan terkendala dalam mengajarkan materi pembelajaran kepada siswa.

Kemudian tingkat kesejahteraan guru masih rendah utamanya guru honorer, masih adanya kesenjangan tinggi antara guru PNS yang memiliki gaji tetap dengan guru honorer yang memiliki honor sangat rendah, parahnya lebih rendah dari gajih buruh.  Hal itu membuat guru honorer sering tidak fokus pada tanggung jawabnya untuk mengajar, namun konsentrasi mereka kadang terpecah karena harus mencari pekerjaan sampingan, sebagai tambahan pendapatan keluarga mereka.

Isu lainnya yakni mengenai jam pembelajaran yang dinilai kurang efektif. Jam pembelajaran di Indonesia dinilai masuk kategori jam pembelajaran yang cukup lama, belum lagi saat mendekati ujian, biasanya ada jadwal tambahan jam pembelajaran yang khusus membahas mengenai persiapan ujian.

Hal itu dirasa kurang efektif, karena kondisi siswa sudah mengalami kelelahan fisik. Faktor lainnya adalah rendahnya minat baca para pelajar, juga menjadi faktor pendorong rendahnya minat membaca siswa. Ada juga yang beranggapan bahwa beberapa pelajar belum menemukan buku bacaan yang menarik baginya. Tak sedikit pula yang kecanduaan media sosial, dan game online. Semua itu bisa berdampak pada rendahnya minat baca, sehingga beberapa pelajar memiliki karakter pemalas dan pengetahuan yang terbatas, sehingga mereka sulit dalam mengembangkan potensi diri.

Bisa disimpulkan bahwa sebaik apapun rancangan kurikulum yang ada, tetap saja berbagai faktor lain turut menentukan keberhasilan pendidikan. Utamanya apa yang dilakukan oleh guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik di sekolah. (*)

Oleh : Antika Rizka Saputri

Penulis Adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.