Kamis , Oktober 6 2022
Beranda / Opini / Pembelajaran Daring di Saat Pandemi Antara Tantangan dan Pendewasaan Diri

Pembelajaran Daring di Saat Pandemi Antara Tantangan dan Pendewasaan Diri

Nampaknya pendidikan saat ini sedang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Seperti yang dapat kita ketahui, sekarang ini yang menjadikan pembelajaran berbeda dengan pembelajaran sebelum-sebelumnya, dimana untuk pertama kalinya bahkan seluruh dunia mengalami Pandemi Covid-19, bahwa pendidikan saat ini mengarah pada pendidikan yang lebih modern dan komprehensif. Para siswa-siswi, tidak lagi belajar di dalam ruangan seperti biasanya, namun mereka dapat belajar di mana saja.

Namun di sisi lain, jika kita lihat lebih mendalam, adanya pembelajaran daring atau online, sangat bertolak belakang mengenai kondisi pendidikan yang ada di Nusantara ini, kebanyakan ketidak merataan dan jauh dari kesan maju. Di mana hal tersebut dapat kita lihat dari sekolah-sekolah yang jauh dari kata kelayakan, bahkan kondisi sekolah yang kurang memadai dan lain sebagainya. Seperti halnya sekolah-sekolah yang berada di pelosok desa ataupun di desa terpencil, yang jarang bahkan sulit dijangkau oleh teknologi modern atau bahkan belum mengenal teknologi modern sama sekali sebelumnya.

Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat dunia mendefinisikan makna hidup, tujuan pembelajaran dan hakikat kemanusiaan. Jika selama ini manusia-manusia dipaksa hidup dalam situasi serba cepat, pekerjaan tanpa henti, dan kejaran target pertumbuhan ekonomi dalam sistem kompetisi. Namun, persebaran Virus Corona (Covid-19) yang menjadi krisis besar manusia modern, memaksa kita untuk sejenak bernafas, berhenti dari pusaran sistem, serta melihat kembali kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya. Manusia dipaksa ‘berhenti’ dari rutinitasnya, untuk memaknai apa yang sebenarnya dicari dari kehidupan.

Persebaran Virus Corona yang massif di berbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah. Kita bisa melihat bagaimana perubahan-perubahan di bidang teknologi, ekonomi, politik hingga pendidikan di tengah krisis akibat Covid-19. Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan tindakan sekaligus selalu belajar hal-hal baru.

Indonesia tidak sendiri dalam mencari solusi bagi peserta didik agar tetap belajar dan terpenuhi hak pendidikannya.  Sampai  1 April 2020, lembaga dunia seperti United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mencatat setidaknya 1,5 milliar anak usia sekolah yang terdampak Covid-19 di 188 negara termasuk 60 jutaan diantaranya ada di negara kita.

Semua negara terdampak telah berupaya membuat kebijakan terbaiknya dalam menjaga kelanggengan layanan pendidkan. Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya diantaranya pertama, ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah. Kedua, keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran. Ketiga, keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan seperti akses internet dan kuota. Keempat, relasi guru-murid-orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.

Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orang tua, bahkan semua orang yang berada dalam rumah.

Pembelajaran teknologi informasi memang sudah diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun, pembelajaran daring yang berlangsung sebagai kejutan dari Pandemi Covid-19, membuat kaget hampir di semua lini, dari kabupaten/kota, provinsi, pusat bahkan dunia internasional.

Sebagai ujung tombak di level paling bawah suatu lembaga pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk membuat keputusan cepat dalam merespon surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang mengharuskan sekolah untuk memberlakukan pembelajaran dari rumah. Pendidik merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus dan proses belajar secara cepat. Siswa terbata-bata karena mendapat tumpukan tugas selama belajar dari rumah.

Sementara itu, orang tua murid merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas, di samping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis.

Jadi, kendala-kendala itu menjadi catatan penting dari dunia pendidikan kita yang harus mengejar pembelajaran daring secara cepat. Padahal, secara teknis dan sistem belum semuanya siap. Selama ini pembelajaran online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum sebagai cara berpikir, sebagai paradigma pembelajaran.

Padahal,  pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Pembelajaran secara online harusnya mendorong siswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dari tantangan-tantangan itu, kita harus berani melangkah untuk menjadikan pembelajaran online sebagai kesempatan mentransformasi pendidikan kita. Ada beberapa langkah yang dapat menjadi renungan bersama dalam perbaikan sistem pendidikan kita khususnya terkait pembelajaran daring.

Pertama, semua guru harus bisa mengajar jarak jauh yang notabene harus menggunakan teknologi. Peningkatan kompetensi pendidik di semua jenjang untuk menggunakan aplikasi pembelajaran jarak jauh mutlak dilakukan. Kedua, pemakaian teknologipun juga tidak asal-asalan, ada ilmu khusus agar pemanfaatan teknologi dapat menjadi alat mewujudkan tujuan pendidikan yakni teknologi pendidikan (TP). Ketiga, pola pembelajaran daring harus menjadi bagian dari semua pembelajaran meskipun hanya sebagai komplemen. Intinya supaya guru membiasakan mengajar online. Keempat,  guru harus punya perlengkapan pembelajaran online. Peralatan TIK minimal yang harus dimiliki guru adalah laptop dan alat pendukung video conference. Kelima, ketimpangan infrastruktur digital antara kota besar dan daerah harus dijembatani dengan kebijakan teknologi afirmasi untuk daerah yang kekurangan.

Jika dilihat dari sisi positifnya, kita bisa memetik hikmah dari pandemi ini, sehingga dengan  adanya  pembelajaran daring tersebut, sebenarnya sangat bagus, bahkan bisa menjadikan kita siswa-siswi serta guru dapat mengikuti perkembangan zaman yang super canggih. Dengan memanfaatkan teknologi modern yang ada, dan selalu mengupgrade diri, sehingga akan membuat kita selalu update tidak kudet atau gaptek. (*)


Oleh : Royi Rohmatulloh

Penulis Adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Tentang Royi Rohmatulloh

Periksa Juga

Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SD

Oleh : Ryana Ayu Agus Tiara, Syabrina Nuraini Hidayat, Katya Osylany Pamungkas Pembelajaran   Tatap   Muka   …