Oleh : Wisnu Graha, S.P.
Bagelen | bagelenchannel.com – Berangkat dari persoalan kekeringan di kawasan Perbukitan Menoreh, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, mengembangkan inovasi Teko Mas Bagelen (Tanaman Aren untuk Konservasi dan Perekonomian Masyarakat Bagelen). Inovasi ini mengintegrasikan upaya pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal melalui budidaya tanaman aren.
Sekitar 70 persen wilayah Kecamatan Bagelen merupakan daerah perbukitan yang menghadapi tantangan kekurangan air pada musim kemarau. Kondisi tersebut turut memengaruhi keberlanjutan pertanian dan produktivitas sejumlah komoditas unggulan daerah, seperti durian, manggis, dan kelapa.
Situasi ini mendorong perlunya langkah yang lebih terarah dan berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan. Tidak hanya berfokus pada upaya konservasi, diperlukan pula pendekatan yang mampu melibatkan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Teko Mas Bagelen hadir sebagai salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut.
Mengembangkan Aren Berbasis Kearifan Lokal
Teko Mas Bagelen merupakan inovasi pemberdayaan masyarakat yang mendorong pengembangan tanaman aren secara terpadu, mulai dari aspek konservasi, penguatan kelembagaan masyarakat, budidaya, hingga pengolahan hasil tanaman untuk meningkatkan nilai ekonomi.
Salah satu unsur kebaruan inovasi ini terletak pada pendekatan berbasis komunitas. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga didorong menjadi pelaku utama dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan kawasan aren.
Inovasi ini juga mengangkat nilai sejarah, kultur, dan budaya lokal Bagelen. Tanaman aren telah lama dikenal dan dimanfaatkan masyarakat secara turun-temurun. Dalam tradisi tutur setempat, Sunan Geseng juga dikaitkan dengan laku kehidupan sebagai penderes aren, selain dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam. Nilai tersebut menjadi salah satu landasan kultural untuk membangun kedekatan masyarakat dengan pengembangan tanaman aren.
Selain itu, Teko Mas Bagelen mendorong keterlibatan fasilitator mandiri dari kalangan tokoh masyarakat, konsolidasi sumber daya lokal, serta kolaborasi berbagai pihak. Pengembangannya diarahkan melalui pendekatan kawasan agar penanaman aren tidak berlangsung secara sporadis, melainkan terencana dan saling terhubung dengan upaya konservasi lingkungan serta pengembangan ekonomi masyarakat.
Dari Pemetaan hingga Pengolahan Hasil Aren
Pelaksanaan Teko Mas Bagelen dirancang melalui sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Prosesnya diawali dengan pembentukan tim pengelola inovasi, dilanjutkan pemetaan potensi wilayah, pendataan pohon aren yang telah tumbuh, serta identifikasi lahan yang berpotensi untuk pengembangan tanaman aren.
Tahapan berikutnya mencakup penguatan kelembagaan dan partisipasi masyarakat, penanaman serta budidaya aren, hingga pengembangan pengolahan hasil tanaman. Upaya tersebut juga diarahkan pada penyusunan kebijakan desa mengenai perlindungan dan pengolahan tanaman aren serta penetapan kawasan pengembangan aren.
Melalui tahapan tersebut, pengembangan aren diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Keberadaan tanaman perlu didukung dengan pemeliharaan, penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan produk olahan, serta pembentukan tata kelola yang memungkinkan manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang.
Sokoagung Dicanangkan sebagai Kampung Aren
Sebagai langkah awal pelaksanaan inovasi, pencanangan Teko Mas Bagelen dilaksanakan pada Minggu, 15 Februari 2026, di kawasan Embung Bagelen, Desa Sokoagung. Pada kesempatan tersebut, Desa Sokoagung juga dicanangkan sebagai Kampung Aren, disertai bantuan sebanyak 1.000 bibit tanaman aren.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Kecamatan Bagelen dengan Pemerintah Desa Sokoagung, JATAM, Universitas Muhammadiyah Purworejo, dan Asosiasi Aren Indonesia.
Pencanangan tersebut menjadi titik awal untuk memperkuat gerakan pengembangan aren berbasis masyarakat. Kawasan Embung Bagelen dipilih sebagai lokasi kegiatan yang sekaligus menegaskan pentingnya keterkaitan antara pengelolaan sumber daya alam, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan aren diharapkan memperoleh dukungan dari berbagai pihak, baik dalam penguatan kelembagaan, pendampingan masyarakat, pengembangan budidaya, maupun perluasan pemanfaatan hasil tanaman.
Memperluas Kawasan Aren di Perbukitan Menoreh
Ke depan, Teko Mas Bagelen diarahkan pada pengembangan kawasan aren yang lebih luas. Sebagai tahap awal, pengembangan direncanakan mencakup Desa Tlogokotes, Somorejo, Hargorojo, Dadirejo, Krendetan, Bapangsari, dan Bagelen.
Pengembangan kawasan akan difokuskan pada wilayah yang memiliki fungsi penting bagi konservasi, terutama kawasan perbukitan dan kantong-kantong air di Perbukitan Menoreh serta wilayah yang berkaitan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong penanaman aren yang lebih terencana sesuai dengan karakteristik lahan dan kebutuhan konservasi. Meski demikian, pemilihan lokasi dan pola penanaman tetap perlu memperhatikan kesesuaian lahan, kondisi ekosistem, serta teknik budidaya yang tepat.
Tanaman aren berpotensi mendukung konservasi tanah dan air apabila dikembangkan sesuai dengan kondisi lingkungan. Di sisi lain, hasilnya juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai produk bernilai ekonomi, sehingga membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Menanam untuk Masa Depan Bagelen
Teko Mas Bagelen tidak hanya berbicara tentang menanam pohon, tetapi juga tentang membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan dan mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. Melalui keterlibatan masyarakat, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor, tanaman aren diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dengan semangat “Menanam pohon aren hari ini adalah cara kita menulis surat cinta kepada bumi, agar generasi mendatang dapat menikmati mata air yang jernih dan tanah yang subur,” Teko Mas Bagelen menjadi ikhtiar Kecamatan Bagelen untuk menyatukan kebutuhan konservasi dan kesejahteraan masyarakat. Langkah ini diharapkan menjadi awal dari pengembangan kawasan aren yang terencana, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat, sehingga kelestarian lingkungan dan potensi ekonomi lokal dapat tumbuh bersama di kawasan Perbukitan Menoreh. (*)

