Jumat , Desember 2 2022
Beranda / Opini / Ketidaksesuaian Harapan Dalam Pembelajaran Tematik

Ketidaksesuaian Harapan Dalam Pembelajaran Tematik

Membicarakan pendidikan di Indonesia, tidak luput dari kata KURIKULUM 2013. Saat kurikulum ini didengungkan di seantero Nusantara ada banyak sekali pro dan kontra yang terjadi di berbagai kalangan, terutama pelajar. “Meningkatkan” dari sistem kurikulum 2006 tetapi masih banyak kekurangan yang meresahkan para pelajar. Bagaimana tidak? Seorang pelajar dituntut untuk aktif disaat seorang guru dipaksa pasif. Semua pelajar di seluruh Indonesia tidak sama, entah dari sisi sikap, keselarasan pikiran, menanggapi suatu masalah, dan masih banyak lagi. Setiap pelajar,  juga tidak semua pintar dalam hal akademik. Ada yang atlet suatu olahraga tetapi akademik pas pasan. Nah dalam kurikulum 2013, pelajar ditambah jam belajarnya serta setelah selesai dari sekola harus membuka pr lagi di dalam rumah. Dalam kurikulum ini siswa seakan ditekan dalam hal akademik tapi dibiarkan dalam non akademik. Padahal non akademik bisa juga digunakan untuk hal yang membanggakan.

Memanglah benar, tugas utama  siswa adalah belajar. Tetapi hampir tidak ada waktu luang untuk memberikan siswa berlatih mengembangkan potensi dalam diri siswa dalam bidang non akademik.

Dalam hal pembelajaran kurikulum 2013, siswa harus aktif untuk bisa menguasai materi. Pembelajaran kurikulum 2013 juga berbeda dengan kurikulum 2006, contohnya tematik. Dalam tematik banyak orang tua mengeluh dikarenakan beberapa mata pelajaran di jadikan dalam satu buku yang sama sehingga peran orang tua untuk mengawasi menjadi berkurang sebab kurang nya pemahaman.

Pembelajaran sistem tematik, juga banyak sekali menimbulkan pro dan kontra. Biasanya kita mengenal pelajaran ips, ipa, pkn, bahasa Indonesia, dan sebagainya. Hal ini bisa juga di dapatkan dalam satu buku tetapi berbentuk tema. Dalam hal tematik, baiknya memang siswa bisa menjadi terpusat dalam memahami suatu pembelajaran. Akan tetapi, siswa juga akan cepat bosan dengan kenyataan pembelajaran di dalam kelas. Secara kasarnya siswa disuruh membuat kelompok lalu membahas suatu hal lalu presentasi, terkadang seorang guru hanya sedikit sekali memberikan materi saat pembelajaran.

Tematik juga menuntut seorang pengajar dapat menguasai seluruh aspek pembelajaran. Hal ini yang bisa membuat kualitas seorang guru menjadi menurun. Sebab guru tidak bisa fokus dalam bidangnya, guru harus fokus terhadap semua hal dalam tematik, karena tematik terkadang menjadikan beberapa pelajaran menjadi satu tema.

Dalam hal pengembangan kreatifitas siswa, tematik memang menuntut siswa untuk berfikir kreatif, itu patut diapresiasi. Akan tetapi siswa juga dituntut dalam hal intelegensi yang dimana intelegensi siswa berbeda beda. Hal itu siswa harus memiliki persamaan intelegensi untuk pembelajaran tematik.

Tematik juga memerlukan kurikulum yang terbuka untuk pengembangannya. Hal ini seakan kontras dengan kurikulum 2013 yang ada. Memang siswa terbuka dalam hal pemikiran akan tetapi guru seakan tertutup dalam memberikan materi. Pengembangan tematik harus perlu dikaji lagi sebab tak semua siswa bisa fokus dalam pembelajaran. Dalam hal belajar saja banyak siswa yang bingung, dikarenakan aspek pembelajaran berdasar tema tidak berdasar pelajarannya.

Pembelajaran tematik juga memerlukan sistem tolak ukur yang terpadu. Hal itu juga kontras lagi dengan kurikulum 2013 yang dimana tolak ukur siswa tidak terlalu ditonjolkan sehingga orang tua bingung tentang kelemahan anaknya terletak pada hal apa. Tematik memerlukan itu, suatu tolak ukur terhadap suatu tema yang dipelajari sehingga setiap siswa dan orang tua mengetahui anaknya mempunyai tidak pahaman pada tema tentang apa dan segera di perbaiki.

Mari, kita lihat sekilas bagaimana Finlandia menjadi negara dengan Pendidikan Terbaik di Dunia. Di negara Finlandia hal pertama yang di benahi adalah aspek SDM pengajar. Mereka membentuk pengajar yang berkualitas, yang unggul, yang kompeten , serta pengajar yang dapat mengerti akan situasi lingkungan. Sehingga para pengajar di Finlandia membuat situasi belajar mengajar senyaman mungkin dan membuat belajar itu menyenangkan. Bahkan di negara itu, pembelajaran tidak lebih dari 5 jam. Kembali lagi hal itu kontras dengan sistem tematik yang dinaungi kurikulum 2013, dimana seorang pengajar yang pasif sehingga siswa seakan akan hanya disuruh presentasi setiap hari lalu setelah pulang kerumah siswa dikejar tugas. Tematik memang selalu memiliki tema yang menarik, tetapi pelajaran akan selalu memberikan pengajaran yang sebagaimana mestinya dilakukan.

Penulis : Luqyana Adhe Fitrian Syuba

Prodi   : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Instansi : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Tentang Luqyana Adhe Fitrian Syuba

Periksa Juga

Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SD

Oleh : Ryana Ayu Agus Tiara, Syabrina Nuraini Hidayat, Katya Osylany Pamungkas Pembelajaran   Tatap   Muka   …