Senin , Agustus 8 2022
Beranda / Opini / Kurikulum 2013 Dimasa Transisi Pandemi Covid-19

Kurikulum 2013 Dimasa Transisi Pandemi Covid-19

Pemerintah (Kemendikbud) mulai tahun ajaran baru (2013) sudah menerapkan kurikulum baru disemua jenjang pendidikan sekolah. Dari jenjang sekolah tingkat SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK mulai tahun ajaran 2013-2014. Kurikulum 2013 sudah berjalan kurang lebih delapan tahun. Semua elemen pendidikan sudah menerapkan kurikulum 2013 dengan baik. Melalui kurikulum 2013 ini siswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran sedangkan seorang guru hanya sebagai fasilitator pembelajaran. Kuikulum 2013 memiliki empat aspek (keterampilan pengetahuan, aspek sikap, dan perilaku). Meningkatnya empat aspek ini di harapkan mampu membantu siswa memahami materi pembelajaran yang sedang dipelajarinya.

Ditengah-tengah proses pembelajaran yang sedang berjalan, wabah Covid-19 di temukan pertama kali di Indonesia pada awal bulan Maret 2020. Salah satu untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 dibidang pendidikan, pemerintah (Kemendikbud) membuat kebijakan yaitu beralihmya proses pembelajaran tatap muka secara serentak berubah menjadi pembelajaran jarak jauh.

Satu tahun lebih sejak kasus Covid-19 ini di temukan di Indonesia, kondisi pandemi Covid-19 secara perlahan mulai mengalami penurunan kasus baru. Akan tetapi proses pembelajaran masih belum bisa dilaksanakan secara maksimal. Banyak sekali sekolah masih melakukan proses pembelajaran menggunakan tatap muka secara bergantian. Hal ini tentu akan berdampak pada siswa, siswa mengalami kesulitan dalam memahami suatu materi. Hal ini terjadi karena kurangnya waktu bagi siswa untuk belajar di sekolah. Selain itu guru dituntut harus mampu memberikan semua meteri pembelajaran kepada siswa, sebagai syarat siswa untuk bisa naik ke kelas yang lebih tinggi.

Selain pembelajaran tatap muka sacara terbatas, beberapa daerah di zona merah masih melakukan pembelajaran jarak jauh (daring). Pembelajaran ini di rasa kurang efektif diimplementasikan di daerah pelosok desa. Minimnya penguasaan Ilmu Teknologi bagi sebagian besar guru, siswa, dan orang tua menjadi permasalahan nyata bagi implementasi pembelajaran jarak jauh. Selain itu sarana dan prasarana yang masih kurang memadai seperti belum terhubungnya koneksi internet di berbagai wilayah perdesaan.

Melalui pembelajaran jarak jauh ini implementasi aspek yang ada dikurikulum 2013 belum bisa di lakukan secara maksimal.  Semua aspek yang ada dikurikulum 2013 tidak bisa diterapkan secara menyeluruh. Melalui pembelajaran jarak jauh ini peran orang tua begitu berdampak dalam proses pembelajaran, hal ini terjadi karena orang tua memiliki waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi secara langsung dengan anaknya. Akan tetapi peran orang tua dalam  proses pembelajaran masih belum begitu maksimal, hal ini terjadi karena sebagian orang tua masih begitu sibuk dengan pekerjaanya. Selain masalah pekerjaan sebagian orang tua di daerah pedesaan masih belum paham dengan materi yang sedang dipelajari oleh anak-anaknya.

Demi mengatasi permasalah ini pemerintah (Kemendikbud) berencana untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka, hal ini akan berlaku pada bulan Juli 2021. Demi menunjang kebijakan ini, pemerintah telah melakukan vaknisasi secara bertahap. Vaksinasi ini di awali dari  tenaga pendidik yang dilakukan secara bertahap dan dilanjutkan dengan vaksinasi bagi siswa. Selain melakukan vaksinasi, tentu sangat bijak kalau pemerintah memasukkan pembelajaran online diinstrumen pembelajaran. Didalam instrumen pembelajaran bisa dimasukkan rencana pembelajaran dengan presentase 70% untuk kegiatan tatap muka dan 30% untuk kegiatan pembelajaran jarak jauh dan meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran jarak jauh. Melalui kebijakan ini tentu akan membuat siswa dan guru bisa belajar teknologi sejak dini. Apabila di masa depan, Indonesia mengalami pandemi tentu proses pembelajaran yang sedang berjalan tidak akan mengalami gangguan yang berarti. Semua tentu sudah siap apabila pemerintah melakukan kebijakan pendidikan jarak jauh, guru dan siswa tidak perlu melakukan adaptasi kembali.

Nama               : Andi Aprilianto

Instansi            : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Prodi               : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Tentang Andi Aprilianto

Periksa Juga

Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas di SD

Oleh : Ryana Ayu Agus Tiara, Syabrina Nuraini Hidayat, Katya Osylany Pamungkas Pembelajaran   Tatap   Muka   …