Efektivitas Pembelajaran Luring & Daring Pada Siswa Sekolah Dasar

Pembelajaran Luring ( Luar Jaringan ) ialah pembelajaran tatap muka yang umumnya dilakukan di Indonesia ini. Membutuhkan fasilitas seperti sekolah,ruang kelas dll sebagainya. Pembelajaran luring hanya dapat dilakukan di sekolah saja. Bertemu dengan guru dan teman teman lain dalam lingkup sekolah dan ruang kelas.

Karakteristik perkembangan peserta didik berbeda beda,tidak mungkin sama karena mereka hidup dalam lingkungan keluarga dan pendidikan yang mereka tempuh berbeda-beda. Jadi dalam hal ini Cara mendidik anak usia dini sekolah dasar yaitu dengan dimulai dari pendidikan keluarga atau orang tua,lingkungan keluarga yang berpengaruh besar dan dengan langkah melakukan pendekatan setiap hari di rumah dengan mengamati perkembangan anak selama kegiatan dirumah. Mendidik anak usia sekolah dasar (SD) bukanlah perkara yang mudah.

Orang tua atau guru harus memahami aspek-aspek dasar tentang perkembangan anak seperti perkembangan kognitif, psikososial, moral, fisik dan motorik anak. Pemahaman terhadap tahap perkembangan anak usia SD pada masing-masing aspek dapat membantu orang tua atau guru dalam memahami karakteristik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya. Pemahaman tersebut digunakan sebagai dasar dalam mendidik anak. Mendidik adalah tugas yang mulia. Mendidik anak adalah tugas utama orang tua bukan tugas guru di sekolah. Guru hanya membantu proses mendidik anak melalui kegiatan pembelajaran yang terbatas.

Peran orang tua dan guru harus saling melengkapi satu sama lain. Orang tua di rumah mendidik dan memberikan teladan yang baik agar tercipta anak yang cerdas berkarakter. Begitu pula guru memiliki peran sebagai pendidik dan pengajar yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi juga mengajarkan teladan yang baik bagi anak didiknya. Pembelajaran Luring yang sudah biasa dilakukan di Negara Indonesia ini terikat dengan sekolah,mereka bersekolah di suatu instansti pendidikan yang terdapat guru,kepala sekolah, siswa dan siswi, ruang kelas dan lain lain.

Dengan belajar tatap muka siswa dan siswa dimudahhkan dalam segi pemahaman dan berinteraksi dengan mudah, karena siswa dapat bebas bertanya dan lebih mudah paham dalam pemahamannya.Tetapi belajar tatap muka memiliki beberapa kekurangan. Biasanya guru hanya mengacu pada ketercapaian kompetensi yang akan dicapai guru saja, guru jarang menggunakan variasi model pembelajaran, sehingga pembelajaran di kelas cenderung teacher center disebabkan model yang bersifat itu-itu saja. Untuk itu penelitian perlu dilakukan. untuk mengetahui perbedaan dari model pembelajaran problem based learning dan inkuiri terbimbing. Dengan cara tersebut tidak ada minat siswa dalam berpikir kritis dan mengikis rasa ingin tahu siswa terhadap hal hal baru.

Tema: Perkembangan Peserta Didik dan Kaitannya dalam Pembelajaran IPA ( dari Usia 7-12 Tahun )

Nama : Agustina Sri Wulandari

Instansi : Universitas Muhammadiyah Purworejo

Program Studi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar /4A