Bisnis Online Jadi Solusi Pedagang Mengatasi Keterpurukan Ekonomi

Fasilitas umum (area publik, taman umum, tempat wisata umum dan area publik lainnya) ditutup sementara merupakan salah satu contoh penerapan PPKM yang berlaku di Indonesia. PPKM yang belum tahu sampai kapan akan berakhir membuat para pedagang di obyek pariwisata Candi Prambanan kian cemas. Mereka terancam gulung tikar, sejak awal pandemi para pedagang mengalami penurunan omset penjualan yang sangat drastis sekali karena obyek pariwisata ditutup. Para pedagang ini harus memeras otak demi meningkatkan omset penjualan.

Sebagaimana diketahui obyek pariwisata Candi Prambanan merupakan obyek pariwisata terkenal di Indonesia sehingga menjadi tempat strategis pedagang untuk menjajakan barang dagangannya. 

Lisa( 37 ), salah satu pedagang di obyek pariwisata Candi Prambanan dari Desa Nangsri, Kecamatan Manisrenggo mengeluhkan banyak kendala yang terjadi akibat PPKM yang terus diperpanjang .

“Kendala selama PPKM ini banyak sekali salah satunya tempat wisata ditutup sehingga tidak dapat jualan alternatifnya ya kita jualan via online , padahal sebelum pandemi datang setiap tanggal merah atau hari libur kita bisa meraup omset yang banyak karena kios ramai banyak wisatawan yang berkunjung ” tutur Lisa. 

Lisa juga menuturkan “Berjualan online dengan mencari reseller dan konsumen melalui media sosial dapat menambah omset penjualan namun juga harus mematok harga seminimal mungkin agar para reseller dapat menjual kembali”

Berjualan online dengan media sosial juga dapat meningkatkan pendapatan ibu rumah tangga karena tidak banyak membutuhkan keterampilan atau waktu hanya perlu melakukan promosi , tidak perlu menyetok barang namun tetap menghasilkan pundi-pundi uang.

Sebenarnya di era digital saat ini untuk berjualan online tidaklah sulit karena terdapat banyak sosial media dan marketplace online. Contoh marketplace yang booming saat ini seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli menawarkan banyak sekali fitur-fitur menarik untuk berjualan online. Namun karena keterbatasan pengetahuan dan tenaga membuat Lisa hanya berjualan via online dengan media sosial Facebook dan WhatsApp.

Oleh: Desi Dyah Utami & Ignatius Soni Kurniawan (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa)