Kamis , Oktober 6 2022
Beranda / Artikel / Edukasi dan Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Edukasi dan Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Abstrak

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes egypti yang ditandai dengan demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet (rumple lead) positif, bintik-bintik merah di kulit (petekie), dan sebagainya. Upaya pemberdayaan masyarakat dengan melaksanakan kegiatan PSN 3M Plus (menguras, menutup tempat penampungan air dan mendaur-ulang / memanfaat kembali barang-barang bekas) serta ditambah (Plus) seperti : menaburkan larvasida pembasmi jentik, memelihara ikan pemakan jentik, mengganti air dalam pot/vas bunga dan lain-lain. Oleh karena itu untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian DBD dan mencegah terjadinya peningkatan kasus, maka diperlukan adanya Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam melakukan pengawasan dan penyuluhan kepada masyarakat agar melakukan PSN dengan 3M plus. Tujuan kegiatan ini memberikan wawasan pada warga tentang pentingnya menjaga kebersihan, mengajarkan cara mencegah demam berdarah dan bagaimana cara mengatasi ketika terkena demam berdarah. Metode ini menggunakan metode kuantitatif. Meliputi penyuluhan serta melakukan survey lapangan secara langsung, yaitu pemberian bubuk ABATE pada warga. Hasil dari pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan dan hasil yang dicapai adalah para warga di wilayah Brengkelan Kongsi kini menjadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar serta lebih waspada terhadap DBD. Peserta juga bisa memahami perubahan yang terjadi saat keluarga terjangkit oleh virus DBD.

 Kata Kunci: Demam Berdarah, ABATE, 3M PSN.

A. Pendahuluan

Di Indonesia penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan kematian 24 orang (41,3%). Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung menyebar ke seluruh tanah air Indonesia dan mencapai puncaknya pada tahun 1988 dengan insiden perkiraan mencapai 13,45% per 100.000 penduduk. Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi.

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Kasus DBD di Kabupaten Purworejo menunjukam peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun. Faktor penyebabnya adalah kurangnya pemahaman masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit DBD serta cara penanggulangannya. Lokasi pemukiman masyarakat Brengkelan Kongsi dengan kepadatan penduduk dan banyaknya selokan serta dekat dengan pasar dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) memungkinkan banyaknya sarang nyamuk. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menyebabkan berpotensi tinggi untuk terjangkitnya penyakit DBD. Metode yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu melakukan pencegahan penyakit DBD dengan pembagian bubuk abate secara gratis yang menjadi sasaran adalah warga Brengkelan Kongsi RT 07/RW07 Kelurahan Purworejo.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit DBD dan cara pencegahannya, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 3M Plus (menguras, menutup, mengubur) memperbaiki saluran, menggunakan obat untuk memberantas jentik nyamuk, dan lain sebagainya.

(Strength)

Terdapat penanggung jawab untuk program penanggulangan DBD, mempunyai SDM yang ahli pada bidangnya, diberikan penyuluhan terkait DBD.

(Weakness)

Penanggung jawab dan SDM yang ahli pada bidangnya terbatas, sehingga tidak bisa maksimal. Bubuk ABATE diberikan secara selektif tidak semua rumah, hanya warga yang hadir pada acara penyuluhan DBD. Terdapat banyak tempat berpotensi perkembangbiakkan nyamuk. Tidak terdapat tempat sampah disekitar jalanan daerah Brengkelan.

(Opportunities)

Masyarakat Brengkelan Kongsi terbuka ketika adanya program penanggulangan DBD. Warga setempat dapat menerima masukan yang diberikan. Sebagian masyarakat sudah melakukan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur)

(Threats)

Lingkungan sekitar rumah (seperti selokan kotor, botol bekar air minum). Kesadaran masyarakat yang rendah dalam menguras bak mandi dengan tepat dan rutin.

Tujuan yang ingin dicapai pada program ini yaitu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit DBD dan cara pencegahannya, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 3M Plus (menguras, menutup, mengubur) memperbaiki saluran, menggunakan obat untuk memberantas jentik nyamuk.

B. Metode

Melaksanakan 3M Plus, tindakan yang dilakukan untuk memberantas jentik nyamuk dengan cara menguras tempat-tempat penampungan air,seperti; bak mandi,tampaian, ember, tempat minum burung, dan lain-lain minimal satu minggu satu kali. Menutup semua barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah yang dapat menampung air hujan.

Membuat video pencegahan,penanganan dan penanggulangan. Menjelaskan pencegahan,penanganan dan penanggulangan penyakit DBD melalui video yang akan dijelaskan oleh narasumber, kemudian video tersebut akan disebarkan elalui media informasi desa (group whatsapp).

Pengendalian secara kimiawi, dengan cara memberikan bubuk abate di tempat-tempat penampungan air seperti gentong air,bak mani, kolam dan lain-lain.

Membuatkan visualisasi tindakan 3M menimbun, menguras, menutup didampingi ahli dan beberapa warga Brengkelan RT07/RW07 berbentuk video, lalu mencetak poster tentang pencegahan, tindakan dan ancaman penyakit DBD. Dilanjutkan dengan menyediakan bubuk ABATE untuk memberantas jentik nyamuk yang nantinya dibagikan kerumah-rumah warga sebagai bentuk pencegahan dan penanganan penyakit DBD.

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang menular dengan cepat, khususnya di wilayah tropis dan subtropis. DBD dapat menular dengan cepat karena agent penyakit DBD berupa virus dengue masuk ke dalam tubuh ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes Albopictus. Bionomik (kebiasaan) Aedes aegypti memiliki keterkaitan dengan lingkungan manusia sehingga menyebabkan penularan DBD dapat terjadi dengan cepat. Pada wilayah endemik, peningkatan kasus DBD dapat terjadi dalam kurun waktu yang singkat bahkan dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di sebagian wilayah di dunia.

DBD menyebar dengan cepat di sebagian besar wilayah di dunia. Menurut laporan WHO, jumlah penderita DBD terbanyak berada di wilayah Pasifik Barat, Asia Tenggara dan beberapa negara di Amerika. Jumlah kasusnya tercatat lebih dari satu juta kasus pada tahun 2008 kemudian meningkat menjadi lebih dari tiga juta kasus pada tahun 2015. Bahkan pada tahun 2016, terjadi wabah DBD di berbagai belahan dunia, khususnya di negara yang berada pada wilayah khatulistiwa. Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue yang terbanyak di benua Asia. Letak geografis Indonesia yang berada di kawasan tropis memberikan pengaruh terhadap kejadian DBD. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, jumlah kasus DBD pada tahun 2015 hingga 2016 tercatat sebanyak lebih dari seratus ribu kasus. Bahkan pada tahun 2016, penderita Demam Berdarah Dengue yang meninggal dunia sebanyak 1.598 orang.

Jumlah kasus DBD di Indonesia bersifat fluktuatif, sebagaimana data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa terjadi penurunan kasus DBD pada tahun 2017 jika dibandingkan dengan kasus DBD pada tahun 2016. Namun DBD tetap menjadi penyakit berbahaya karena kasus DBD terjadi di sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia setiap tahunnya. Maka dari itu, DBD masih menjadi permasalahan yang membutuhkan penanganan serius dari pemerintah.

Salah satu provinsi yang merasakan dampak dari wabah DBD salah satunya Jawa Tengah, khususnya Kota Purworejo. Dinas Kesehatan Jawa Tengah  pernah mencatat jumlah kasus DBD pada tahun 2020 sebanyak 5.683 penderita yang tersebar di seluruh kecamatan.

Pemaksimalan program pencegahan penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) di instansi kesehatan menjadi agenda utama yang harus diprioritaskan agar dapat menurunkan kasus DBD. Upaya penanggulangan DBD sebenarnya telah diupayakan oleh petugas puskesmas. Salah satu program pengendalian DBD yang dimaksimalkan oleh puskesmas yaitu pengendalian vektor DBD. Program tersebut telah dikampanyekan secara masif melalui program 3M (Menguras, Menutup, Mengubur). Bahkan program ini kemudian didukung dengan gerakan JUMANTIK (Juru Pemantau Jentik) di setiap wilayah kerja puskesmas.

Pemantaun penyebaran DBD dengan menggunakan data spasial menjadi sangat penting untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus dengue. Penggunaan data spasial untuk mendapatkan suatu informasi penting, dikenal dengan istilah Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG digunakan sebagai alat bantu untuk memantau atau monitoring sejauh mana penyebaran penyakit melalui media vektor, kondisi lingkungan, sosial, pelayanan kesehatan, dan menyelesaikan berbagai masalah kesehatan masyarakat. Sistem informasi geografis (SIG) atau Geographic Information System (GIS) digunakan untuk melihat hubungan antara kasus DBD dengan kondisi lingkungan. Sistem informasi geografis dapat menganalisis tren curah hujan dengan kejadian DBD. Maka dari itu, SIG dapat membantu dalam mengetahui pola kejadian DBD bahkan mengetahui pola sebaran kasus DBD. SIG dapat menjadi alat analisis yang dapat memprediksi secara akurat kejadian DBD beberapa tahun ke depan berdasarkan pola kasus DBD terdahulu.

Dalam penggunaan data spasial, terdapat beberapa metode yang telah dikembangkan untuk dapat menjelaskan tingkat hubungan pada suatu variabel. Jika dalam analisis yang tidak menggunakan data spasial atau data statistik yang bersifat umum, biasanya analisis yang digunakan jika melibatkan dua variabel yaitu uji korelasi. Namun dalam data spasial, satu variabel dapat diuji dengan sesama objek yang ada di dalam variabel tersebut atau sering disebut autokorelasi. Dalam istilah spasial, autokorelasi diartikan sebagai analisis yang bertujuan untuk melihat tingkat kesamaan pada suatu objek dalam suatu ruang.

Uji auto korelasi akan menghasilkan output berupa clustered (berkelompok), dispersed (menyebar), dan random (acak). Metode yang dapat digunakan dalam pengujian autokorelasi spasial suatu kejadian yaitu Moran’s I atau disebut juga dengan istilah Indeks Moran. Metode Moran’s I sangat aplikatif dalam menganalisis berbagai permasalahan, termasuk bidang kesehatan khususnya penyebaran penyakit.

Pemetaan wilayah rentan DBD dengan menggunakan Moran’s I belum pernah dilakukan di Kota Purworejo. Beberapa penelitian DBD yang telah dilakukan di Kota Purworejo hanya sebatas uji statistik pada variabel tertentu. Belum pernah dilakukan uji auto korelasi spasial pada kasus DBD yang terjadi setiap tahunnya di Kota Purworejo. Oleh karena itu, dalam memaksimalkan pelaksanaan program pengendalian DBD maka dibutuhkan pengelolaan data spasial menjadi basis data surveilans DBD. Pengembangan data spasial dalam mendukung pemaksimalan program DBD diharapkan dapat diterapkan oleh semua puskesmas yang ada di Kota Purworejo. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pola sebaran DBD di wilayah Brengkelan Kongsi sehingga dapat memaksimalkan pelaksanaan program penyuluhan DBD.

Senin, 10 Januari 2022, Koordinasi bersama pengurus PKK guna pelaksanaan kegiatan sosialisasi pencegahan penyakit DBD yang berlokasi di Rumah Ibu Ngademi selaku pengurus PKK RT 07 dan Ibu Tatik selaku pengurus PKK RT 03 Brengkelan kongsi.

Selasa, 11 Januari 2022, Koordinasi dengan narasumber DBD, kemudian sruvey tempat-tempat yang berpotensi sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk yang berlokasi di Rumah narasumber dan lingkungan Brengkelan Kongsi.

Minggu, 16 Januari 2022, Ikut serta dalam kegiatan rutin senam kebugaran Brengkelan Kongsi, serta melaksanakan Kerja bakti di lingkungan Brengkelan Kongsi yang berlokasi di Halaman Pendopo RT 07/RW 07 Brengkelan Kongsi.

Minggu, 23 Januari 2022, Melakukan Kunjungan Ketua RW7 Brengkelan Kongsi guna persiapan kegiatan penyuluhan pencegahan dan penanganan penyakit DBD yang berlokasi di Rumah Ketua RW 07 Brengkelan Kongsi, Posko KKN Kelompok 90.

Senin, 24 Januari 2022, Membungkus bubuk abate dan persiapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan DBD, Membuat ucapan terimakasih untuk narasumber, mencetak uacapan terimakasih dan koordinasi dengan ketua RW 07 yang berlokasi di Posko KKN Kelompok 90, Revo Print Purworejo, Rumah Ketua RW 07.

Selasa, 25 Januari 2022, Mempersiapkan sarana dan prasarana untuk kegiatan penyuluhan, dan melaksanakan program kerja DBD bersama ibu-ibu PKK Brengkelan Kongsi RT 03 dan 07

Ketika pelaksanaan penyuluhan DBD dan pembagian bubuk ABATE dihadiri sebanyak dua RT yaitu RT 03 dan 07, dengan total warga 31 orang.

C. Hasil dan pembahasan

Secara umum pengetahuan masyarakat terkait dengan DBD di wilayah Brengkelan Kongsi sudah cukup baik berdasarkan dari hasil kegiatan program kerja penyuluhan DBD mengenai tentang DBD, penyebab,tanda – tanda, cara penularannya dan pencegahannya. Pengetahuan tentang DBD menjadi hal yang penting di ketahui oleh masyarakat sampai ditingkat keluarga. Rendahnya pengetahuan tentunya sejalan dengan munculnya resiko terkena DBD. Dengan demikian jika keluarga khususnya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai DBD, maka dapat terhindar dari resiko terkena DBD.

Tingginya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan DBD akan mempengaruhi sikap untuk mengambil keputusan dan berperilaku. Sikap seseorang dalam upaya pencegahan DBD merupakan hal yang sangat penting karena seseorang memiliki pengetahuan dan penalaman mengenai DBD, maka dia akan memiliki keyakinan antara pengetahuan dan perilaku karena bisa jadi orang yang berpengetahuan baik melakukan perilaku yang bertentangan dengan pengetahuannya sendiri. Demikian sebaliknya pada penelitian lain mengungkapkan bahwa peran tokoh masyarakat yang tinggi tetapi tidak didasari dengan pengetahuan , atau pengetahuan yang tinggi tetapi tidak ada kemauan atau peran dari tokoh masyarakat dalam pengendalian DBD merupakan suatu fenomena yang mungkin saja menjadi salah satu sumber penyebab yang sulit tertanggulanginya masalah DBD selama ini. Walaupun rata – rata 64 tahun dan kurangnya mendapat penyuluhan terkait dengan DBD, atau beranggapan DBD merupakan penyakit biasa atau kurang serius.

Ancaman demam berdarah dibawa oleh jenis nyamuk aedes, tetapi disebabkan oleh Alphavirus Togaviridae, virus dengue itu sendiri merupakan bagian dari flaviviridae dan dapat diklasifikasi kan dalam empat streotipe Dengue-1, Dengue-2,Dengue-3 merupakan virus yang sering menyebabkan kasus berat hingga kematian. Masa inkubasi Chikungannya adalah 1 – 12 hari dan durasinya bervariasi dari satu hingga dua minggu. DBD mendapat perhatian serius dar seluruh kalangan masyarakat.

Jenis penyakit dengue ini dapat menyebabkan kematian (Vanwameke, 2006). Sejala dari dengue shock sydrome, jenis penyakit dengue yang plaing parah, meliputi semua gejala demam berdarah klasik dan dengue Hemorrhagic fever, ditambah; kebocoran di luar pembulu darah, perdarahan parah, shock )tekanan darah sangat rendahh). Jenis penyakit ini biasanya terjadi pada anak – anak (dan beberapa orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue kedua kallinya. Jenis penyakit ini sering kali fatal, terutama pada anak – anak dan dewasa muda (Firda, 2008). Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah, salah satunya dengan cara memberdayakan jumantik merupakan warga setempat yang dilatih untuk memeriksa keberadaan jentik nyamuk.

Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat oleh mahasiswa KKN memberikan banyak dampak bagi warga sekitar dan mahasiswa yang mengikutinya. Selain itu RT, RW, dan kelurahan sangat terbantu dengan pendataan warga dan warga sekitar menjadi teredukasi dan paham akan bahaya DBD, dan mengetahui apa saja yang perlu diperhatikan dalam menghadapi penyakit ini. Tidak hanya warga yang merasa positif dengan adanya program KKN penyuluhan DBD, mahasiswa sebagai peserta juga diarahkan untuk turut serta mengurangi angka penyebaran penyakit DBD mulai dari hal yang kecil yaitu lingkungan.

Penelitian lain menekankan pengalaman yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang didasari oleh pengetahuan. Warga yang mengetahui bahwa pencegahan DBD itu diperlukan untuk memutus mata rantai penularan akan memiliki perilaku yang baik dalam upaya pencegahan DBD, namun diketahui dalam penelitian ini bahwa belum semua warga memahami secara baik untuk pencegahan DBD. Hasil kegiatan ini sesuai dengan penelitian lainnya yang menegaskan kurangnya tingkat pengetahuan warga terkait dengan DBD dapat menyebabkan peningkatan keberadaan jentik aedes aegypti sehingga terhadi peningkatan angka kesakitan akibat tidak melakukan pencegahan PSD ( Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan melakukan 3M plus yaitu menguras,menutup dan mengubur serta kegiatan lainnya yang dapat mencegah nyamuk aedes aegypti berkembangbiak.

Semakin maraknya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi disebabkan oleh perubahan iklim mulai dari curah hujan, suhu, kelembaban, dan udara yang berpengaruh dengan pesatnya perkembangan nyamuk aedes aegypti. Terutama pada saat kami melakukan observasi di lingkungan Brengkelan Kongsi dengan kepadatan penduduk dan banyaknya selokan serta dekat dengan tempat pembuangan akhir (TPA) memungkinkan banyaknya sarang nyamuk. Serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan yang memungkinkan berpotensi tinggi untuk terjangkitnya penyakit DBD di lingkungan Brengkelan Kongsi. Untuk itu kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit DBD dan cara pencegahannya, dengan mengadakan penyuluhan penyakit DBD dan menghadirkan narasumber untuk menyampaikan detail materi tentang pencegahan dan pengendalian penyakit DBD. Melaksanakan metode 3M Plus dan membagikan bubuk abate pembasmi jentik nyamuk.

Setelah melakukan observasi lingkungan Brengkelan Kongsi. Kegiatan berikutnya yaitu kami berkoordinasi bersama pengurus PKK guna pekasanaan kegiatan penyuluhan penyakit DBD yang dilaksanakan setelah PKK. Di hari berikutnya yaitu pada hari Senin, 10 Januari 2022 kami berkoordinasi dengan narasumber mengenai penyuluhan penyakit DBD. Pada hari Minggu, 16 Januari 2022 kami ikut serta kegiatan kerja bakti lingkungan Brengkelan Kongsi, kemudian survei dan tinjau rumah lingkungan yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

Pada tanggal 23-24 Januari 2022 kami mempersiapkan sarana prasarana yang dibutuhkan untuk kegiatan penyuluhan penyakit DBD. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada hari Selasa, 25 Januari 2022 setelah kegiatan Ibu-ibu PKK. Kegiatan ini terlaksana dengan baik, sesuai yang sudah direncanakan. Warga yang hadir cukup banyak dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yang kami sediakan dan antusias terhadap kegiatan penyuluhan ini.

Kegiatan akhir pada program ini yaitu pada hari Sabtu, 29 Januari 2022 kami melakukan gerakan 3M Plus dan cara Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan bubuk abate yang sudah kami bagikan kepada warga Brengkelan Kongsi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penyakit DBD serta meningkatkan kesadaran masyarakat agar tetap menerapkan hidup bersih dan sehat agar terhindar dari penyakit DBD.

Pesan yang disampaikan dalam penyuluhan DBD ini adalah sebuah informasi agar masyarakat memahami tentang gejala dan cara pencegahan DBD yang baik dan benar, serta menciptakan lingkungan bebas DBD dan mencegah penyebaran wabah DBD  dalam siklus  tiga tahunan. Teknik komunikasi saat penyuluhan menjadi peran penting dalam membantu masyarakat untuk memahami materi yang disampaikan. Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas dalam sebuah komunikasi adalah kode pesan, isi pesan dan perlakuan terhadap pesan (Yuhana dkk.,2008).

Penyuluhan kesehatan merupakan bentuk pendidikan non formal yang bertujuan untuk menyampaikan informasi penting pada masyarakat khususnya masyarakat wilayah Brengkelan guna meningkatkan pemahaman dalam bidang kesehatan. Sifat penyuluhan yang non formal memudahkan untuk dilakukan dimana saja dan kapan saja, tidak memiliki kurikulum yang pasti, karakteristik peserta beragam, tidak ada sanksi yang pasti,tetapi menjadi momen yang kekeluargaan karena antara penyajian dapat lebih akrab dengan peserta, sehingga materi yang disajikan lebih mudah terima (Sumary dkk.,2012). Metode penyuluhan dilakukan dengan pendekatan secara kelompok yaitu pertemuan dengan sekelompok sasaran masyarakat yang dilakukan pada waktu yang ama (Mardikanto, 1993).

Setelah sosialiasasi, dilanjutkan dengan praktek cara penerapan 3M Plus yaitu Menguras, Menutup dan Mengubur terhadap warga sekitar Brengkelan Kongsi, membagikan kepada masyarakat yang belum mendapatkan bubuk ABATE.

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pengabdian masyarakat diketahui masyarakat mampu memahami seluruh materi yang disampaikan.

D. Kesimpulan

Dari hasil kegiatan ini, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan warga sekitar dan pencegahan DBD secara keseluruhan di Daerah Brengkelan Kongsi sudah cukup baik, selain itu tindakan terhadap pengendalian DBD masih kurang karena masih ditemukan jentik-jentik pada pemeriksaan kondisi lingkungan di dalam rumah dan di luar rumah. Pencegahan DBD lebih ditekankan pada kebersihan lingkungan, kebersihan lingkungan yang menjadi perhatian tidak cukup hanya kebersihan limgkungan rumah saja, melaikan kebersihan lingkungan umum atau fasilitas umum lainnya wajib menjadi perhatian. Untuk itu perlu adanya antisipasi pengendalian DBD dilakukan, terutama dalam menjelang waktu pergantian musim untuk lebih mendorong peran serta aktif masyarakat secara suka rela melaksanakan kegiatan pembersihan sarang nyamuk plus. Total coverage pelaksanaan PSN Plus perlu diperhatikan oleh masyarakat, pemerintah ataupun instansi terkait.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa wabah demam berdarah bukan saja menjadi masalah di daerah kita saja, akan tetapi sudah menjadi masalah nasional. Di Indonesia diperkirakan sudah tidak ada lagi satupun propinsi yang terbebas dari demam berdarah. Hal ini menunjukkan begitu besarnya bahaya demam berdarah yang mengancam masyarakat Indonesia, oleh karena itu pencegahan menjadi hal wajib yang musti dilakukan agar ancaman ini tidak berkelanjutan. Generasi muda sebagai penerus bangsa adalah salah satu element yang tentunya sangat dibutuhkan ke ikut sertaan dan partisipasinya dalam upaya memerangi bahaya demam berdarah ini. Memberikan informasi yang benar tentang demam berdarah, bagaimana mencegah dan menanggulangi serta memberikan motivasi dan penyadaran kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah penyebarannya adalah bentuk peran aktif generasi muda.

Daftar Pustaka

  1. Andi, S. dan Sugiyanto. 2019. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Anti Demam Berdarah Dengue (DBD). CARADDE: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol.1:No.2. e- ISSN:2621-7910 dan p- ISSN: 2621-7961.
  2. Jurnal Abdikarya : Jurnal Karya Pengabdian Dosen dan Mahasiswa E-ISSN : 2655-9706 Juli 2019 Vol. 03 No. 03
  3. Tri, W. S., Supriyati, Tri B. T. S., Mahardika A. W. dan Retna S. P. 2018. Pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian Demam Berdarah. Jurnal Vektor Penyakit, Vol.12. No.2, 2018; 67-76
  4. https://ptvz.kemkes.go.id/storage/media-download/file/file_1619447946.pdf
  5. Anggraeni, S. (2016). Analisis Persebaran  Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
  6. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, (2016). Petunjuk Teknis Implementasi PSN 3M- Plus, Jakarta.
  7. RI, M. (2018). Situasi Demam Berdarah Dengue di Indonesia Tahun 2017. Soegijanto. (2006). Demam Berdarah Dengue Surabaya: Airlangga University Airlangga Press

Tema Program Kerja : Kesehatan Masyarakat.

Judul Program Kerja : Edukasi dan Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kelompok 90 KKNT Universitas Muhammadiyah Purworejo 2022 :

1. Rizandika Dwi Marevi (182120056/Pendidikan Bahasa Inggris)

2. Myta Tri Ayuningsih (182120055/Pendidikan Bahasa Inggris)

3. Sera Nugraheni (182210007/Manajemen)

4. Selvia Dinda Astuti (182210092/Manajemen)

5. Dwi Fitrianti Utami Putri (183080007/Psikologi)

Dosen Pembimbing: Agus Budi Santoso, S.H., M.H.

Tentang Bagelen Channel

bagelenchannel.com | Berita Onlinenya Purworejo, Khas, Aktual, dan Inspiratif

Periksa Juga

Desa Tangkisan Kini Dinilai Sangat Dinamis

Oleh : Jamil Siregar Sekilas saat nama Tangkisan disebut, seolah-olah nama itu terkesan sangar, sebab …