Jumat , Desember 2 2022
Beranda / Artikel / Menilik Lebih Dekat Ekosistem Tambak Udang

Menilik Lebih Dekat Ekosistem Tambak Udang

Pengertian ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya yang menjadi tatanan kesatuan utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem tambak udang merupakan ekosistem yang terdiri dari berbagai organisme akuatik yang saling berinteraksi sehingga perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan dan organisme lainnya agar dapat hidup saling menunjang dan tidak mengganggu.

Kunjungan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo melakukan kegiatan penggalian informasi tentang ekosistem buatan di tambak udang Desa Kertojayan, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, mendapatkan respon baik dari petani tambak serta diberikan arahan dan ilmu tentang ekosistem di tambak. Tambak udang merupakan  suatu ekosistem buatan yang terbentuk dari campur tangan manusia untuk memenuhi kebutuhannya, segala komponen biotik dan abiotiknya sebagian merupakan buatan manusia sehingga memiliki keanekaragaman terbatas.

Ekosistem buatan tambak udang yang dibuat oleh petani berada di pesisir laut kurang lebih berjarak 200 m dari bibir pantai, berdasarkan penggalian informasi bahwa petani tambak mengelola sekitar 1.100-1.200 m2 lahan tambak, setiap tambak berisi 150.000 benih udang. Udang yang di budidaya adalah jenis udang vannamei, masa panen udang jenis ini dari mulai benih pembesaran sampai siap untuk di pasarkan sekitar 60-100 hari. Udang jenis vannamei ini di beri pakan menggunakan pakan pabrikan seperti pelet khusus udang, pemberian pakan udang dilakukan 3-4 kali dalam satu hari.

Pengelolaan lahan tambak juga menjadi hal terpenting dalam menjaga ekosistem yang ada di dalamnya, seperti menjaga kualitas air agar stabil dan tidak ada perbedaan signifikan antara suhu air di dasar tambak dengan suhu air di permukaan tambak. Menjaga kualitas air tambak membutuhkan beberapa komponen bahan sesuai prosedur kerja. Komponen bahan tersebut meliputi yaitu, air tawar 100 liter, MGCL 1,5 liter, kapur dolomit 2kg, zeolite 1,5 liter, azomite zak 1,5 liter, bahan-bahan tersebut di campur dalam suatu wadah kemudian di masukan ke dalam tambak sebagai ionisasi kondisi air tambak dan menjaga kualitas air dalam tambak, selain penggunaan bahan-bahan tersebut komponen dalam menjaga air tambak juga di lengkapi dengan penggunaan kincir air yang dinyalakan terus-menerus sebagai komponen penting menjaga ekosistem di dalam tambak.

Tambak udang yang di lengkapi dengan kincir air tersebut berguna sebagai penyeimbang suhu dengan sistem oksigen dan pengadukan sebagai sentraliasi pemerataan suhu air serta penyentralan limbah yang mengendap pada dasar tambak. Limbah tambak terbagi menjadi beberapa komponen yaitu, endapan lumpur dan plankton mati. Limbah tersebut harus disentralkan menggunakan beberapa bahan seperti kaporit, kapur dolomit, EM-4, dan cairan MGCL bahan tersebut di campur dengan air tawar pada sebuah wadah untuk di masukan kedalam tambak sebagai sentralisasi kondisi air. Kondisi air juga bisa diakibatkan cuaca ekstrim seperti hujan yang terus menerus yang mengakibatkan zat asam pada hujan mempengaruhi kualitas air hal tersebut, juga harus dilakukan sentralisasi agar kondisi air tidak ada perbedaan yang signifikan.

Menjaga lingkungan di sekitar tambak juga sangat di perhatikan sebagai penyeimbang ekosistem tambak, dalam hal ini petani tambak melakukan berbagai aplikasi pengelolaan tambak dan lingkungan sekitar seperti membersihkan lumut kering yang di sekitar tambak, membersihkan rerumputan yang tumbuh liar serta melakukan pembuangan limbah dari endapan kotoran lumpur melalui irigasi yang di salurkan ke laut. Perlakuan adanya penerangan lampu di malam hari pada sekitar tambak juga sangat penting sebagai penyeimbang cahaya ketika pergantian siang dan malam, dan sebagai penerangan di malam hari agar mempermudah petani tambak saat melakukan pengontrolan.

Kendala yang dihadapi petani tambak yaitu, kematian udang akibat penyakit infeksi yang disebabkan penurunan kualitas air, virus, parasit, bakteri dan jamur. Jenis penyakit juga disebabkan oleh strees, kepala kuning, kram pada udang, penyakit berak putih(white faces disease), dan jamur fusariosis. Dari kendala tersebut petani tambak sudah memimalisir kematian dengan berbagai cara dengan perawatan dan pengontrolan secara berkala kadar air serta pembersihan kolam dengan cara penyeterilan menggunakan bahan-bahan yang sesuai prosedur kerja.

Kendala kejadian alam juga sangat berpengaruh pada udang seperti, kilatan petir yang berlebih mengakibatkan udang stress dan meloncat dari kolam, kondisi seperti ini memungkinkan udang yang meloncat dan keluar kolam akan mati karena udang sangat sensitif terhadap cahaya berlebih. Kejadian ini pernah di alami petani ada sekitar 75kg udang yang meloncat keluar dari kolam yang mengakibatkan kerugian bagi petani tambak.

Hasil penggalian informasi mengenai ekosistem di tambak udang dapat disimpulkan bahwa ekosistem tambak memerlukan perhatian khusus dan sangat teliti dalam penanganan pengelolaan tambak dan cara budidaya udang, dari hasil tersebut ekosistem tambak juga dipengaruhi oleh cuaca ekstrem yang sangat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalam tambak serta pengelolaan tambak memang perlu ketelitian menjaga stabilitas kondisi air dan menjaga ekosistem di dalamnya tetap terjaga agar tidak menimbulkan ketimpangan terhadap organisme pada lahan tambak guna menghasilkan udang yang baik dan bagus untuk di pasarkan.


Penulis : Amelia, David, Didi, Ema, Febi, Yoga, Adam

Tentang Bagelen Channel

bagelenchannel.com | Berita Onlinenya Purworejo, Khas, Aktual, dan Inspiratif

Periksa Juga

Bayar Pajak Pakai Sampah?

Sampah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita. Hampir setiap hari kita menghasilkan …